SECARIK SURAT BUAT PARA PATRIOT NKRI

19

=======================================
SECARIK SURAT BUAT PARA PATRIOT NKRI
=======================================

dedenew455
Di sebuah pulau yang terpencil dan terasing dari dunia, ada sebuah kapal yang pecah dan terdampar akibat dipukul oleh ombak besar.
Dari sekian penumpangnya ternyata hanya ada enam orang yang selamat dan merupakan dari bangsa yang berbeda.
Setelah selama berbulan-bulan mereka berada dalam kegelapan pulau tersebut, secara tidak sengaja mereka berhasil menciptakan api.
Namun suasana kegembiraan dari enam orang tersebut telah bertukar menjadi tegang dan hampir saja menimbulkan keributan.

Biang keributan dikarenakan masing-masing melihat api dengan pandangan berbeda;

Orang jawa berkata : ” Iki geni……”
Orang Inggris berkata : ” This is fire……”
Orang Arab berkata : ” Hadzan nar……”

Orang buta berkata : ” Kalian semua salah……!
“Aku tak melihat apa-apa kecuali kegelapan dan warna hitam……”.
Kenyataan dari orang yang buta tersebut semakin memperkeruh keadaan dan semakin menyulut emosi karena menolak kewujudan api tersebut.

Orang yang bisu hanya melihat saja tanpa bisa berkata apa-apa walaupun dirinya menyaksikan kebenaran.

Perselisihan tak terhindarkan dan hampir saja mengakibatkan perkelahian hingga akhirnya orang yang keenam dan merupakan seorang yang arif bijaksana berujar dengan tenang ;
” Kalian semua benar……, hanya bicara dengan bahasa yang berbeda, tidak ada yang perlu diperselisihkan.
Yang buta juga benar sebab ia tak melihat apa-apa, yang bisu juga benar karena ia tak bisa berkata apa-apa……..”

=======================================
Kepicikan pengetahuan mengundang perselisihan,
Kebutaan menyulut permusuhan,
Kebisuan tak bisa menjernihkan suasana.
Hanya kearifan dan kebijaksanaan yang bisa meredam perselisihan, memadamkan api permusuhan dan bisa mencegah perpecahan anak bangsa.

Dalam kehidupan ini, manusia senantiasa dihadapkan pada rangkaian konflik, entah di dalam dirinya maupun dari luar dirinya.
Konflik selalunya mengandaikan adanya pertentangan dua hal yang subtansinya berseberangan, ada dua entitas yang amat kontradiktif.
Bagi manusia modern dimanapun berada, pemecahannya sudah jelas yakni anda diberikan kebebasan mana yang benar dalam kontradiksi tersebut.

Kalau anda menentukan salah satu sebagai benar, baik dan sepantasnya maka dengan sendirinya seorang lawan akan berada dalam
posisi yang salah dan jahat serta tidak layak.
Disini ada prinsip dominasi yang bersifat mengalahkan dan mematikan terhadap pihak yang dominan, yang kuat, yang menang.
Sedangkan yang dikalahkan harus mengikuti yang menang.

Sudah menjadi lumrah dalam adat dunia sekarang ini, individu dan kelompok berupaya mendominasi kebenaran dengan kemenangan entah dengan pikiran, kekuatan atau kekerasan.
Kebebasan memilih yang benar dan mana yang salah mengakibatkan adanya kebenaran tunggal.
Pilihan saya adalah kebenaran yang harus saya perjuangkan mati-matian.

Maka dampak sebabnya, konflik akan terus terjadi dan semakin hebat karena yang kalah akan berusaha bangkit mengalahkan kebenaran, karena ambisi terbesar manusia adalah pemegang kebenaran di seluruh muka bumi.

Dalam alam pemikiran primordial Nusantara,
prinsip dominasi sering dijalankan, hanya tak sampai melenyapkan kebebasan memilih kebenaran yang dikalahkan.
Prinsipnya, saya selamat anda juga selamat.
Saya bebas memilih tetapi anda juga bebas memilih kebenaran.

Raja-raja Nusantara sejak dulu kala saling menyerang dan mengalahkan, tetapi tidak pernah terjadi penjajahan kebenaran tunggal di dalamnya.
Setiap kerajaan taklukkan tetap melanjutkan cara hidup masing-masing dengan kebenarannya sendiri.
Hanya setiap kali harus datang lapor kepada raja penguasa di pusat pemerintahan bahwa mereka masih mengakui raja pemenang

Majapahit atau Sriwijaya tidak pernah memaksakan cara hidup atau kebenaran yang berlaku di pusat pemerintahan untuk diseragamkan di seluruh wilayah yang pernah dipaksa untuk mengakui kekuasaannya.

Begitu pula suku-suku primordial Indonesia yang punya tradisi perang suku, tidak pernah ada ambisi untuk melenyapkan suku musuhnya ( yang sebenarnya pasangan hidupnya ).
Prinsipnya saya hidup selamat, anda juga hidup selamat meskipun konflik tetap dipelihara.
Masih mengutamakan prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat sebagai jalan tengah atau pemecah masalah.

=======================================

dedenew461

Ada tiga orang penghuni bumi yang berdebat mempertahankan prinsip dan keyakinannya masing-masing.

Orang Khatulistiwa berkata;
“Demi kebenaran, matahari tepat diatas kepala saya”

Orang kutub selatan berkata;
” Demi kebenaran, matahari ada di sebelah selatan.

Orang kutub utara berkata;
” Demi kebenaran, marahari ada di sebelah utara.

Dan ketiganya berkata;
“Kita bertiga berselisih paham dan berbeda pendapat. Dengan penuh keyakinan akan kebenaran, masing-masing dari kita akan mempertahankan meski dengan mempertaruhkan nyawa.
Mungkinkah matahari kita berbeda……?
Atau ada tiga matahari di dunia……?
Bagaimana mungkin kita bisa bersepakat pendapat……?”

Lantas orang langit yang memiliki ilmu pengetahuan tentang geografi datang dan berkata;
” Sebenarnya kalian semua benar.
Matahari tak pernah berubah, berkurang atau bertambah.
Yang kalian perselisihkan adalah benda yang tetap dan sama, yaitu matahari yang satu.
Mata dan posisi kalian yang membuat kebenaran seolah berbeda, cobalah kalian bertemu di satu tempat dan lihat bersama”

Lalu ketiganya berjalan bersama-sama ke arah utara kemudian ke arah selatan, menempuh jarak yang sama demi keadilan dan bertemu tepat di tengah-tengah khatulistiwa.
Setelah mereka sama-sama berkumpul dan memandang di satu tempat, ternyata perkataan mereka bertiga sama serta bersepakat menemukan satu pendapat, satu suara dan satu mufakat.

“Ternyata matahari memang hanya satu, tepat posisi di atas kepala kita bertiga.
Tidak ada yang berbeda atau berubah arah dan berapa jumlah dari matahari, kita semua sepakat kebenaran baru tercipta dalam satu kata mufakat”.

Kemudian di lain hari ketika matahari ada di sebelah barat justru kita menghadap ke timur, maka yang terlihat hanya bayang-bayang badan memanjang.
Bila kita ingin melihat sinarnya maka kita mesti memutar badan atau ubah arah wajah berpaling setengah lingkaran ke arah barat.
Matahari pasti akan jelas terang benderang.
Jika kita tetap bersikukuh diam, maka hingga matahari terbenam kita hanya melihat bayang-bayang kemudian berganti hitam kelam oleh gelapnya malam.

Perubahan kecil ternyata banyak membuat perubahan besar.
Kebenaran besar tercipta dari kebenaran kecil.
Hanya dengan sedikit menggeser posisi, berputar, berpaling, menoleh berganti arah dan sudut pandang.
Apa yang semula bayang-bayang, samar bahkan gelap hitam kelam tiba-tiba saja bisa berubah menjadi nyata, jelas dan terang benderang.
Keadaan baru menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Kebenaran baru, lebih nyata dari kebenaran sebelumnya.

Boleh jadi semua manusia benar, tapi kebenaran di dunia adalah kebenaran relatif, bersifat nisbi, bias, semu, maya, penuh ketergantungan pada batasan-batasan dan sangat beragam.
Kebenaran hakiki hanya milik Tuhan, kebenaran absolut bersifat mutlak, independen, tiada ketergantungan, tiada batasan, lurus, asli, sejati dan hanya satu, ahad, Esa, eka, tunggal.

Sebagian perselisihan disebabkan oleh perbedaan posisi tempat, perspektif sudut pandang dan persepsi cara pandang.
Perubahan dan pembaharuan sudut pandang, kecerdasan membaca keadaan, kecermatan menghadapi permasalahan akan membuka kebenaran-kebenaran baru yang lebih meyakinkan dan menjangkau lebih banyak orang.

Ilmu pengetahuan, wilayah pertengahan, kelapangan dada dan kearifan menyikapi perbedaan, itikad baik mencari kebenaran bersama, keberanian memperbaharui dengan perubahan dan sesekali berikhtiar melihat dari sisi berbeda akan membuka peluang menyatunya ragam perbedaan, redanya perselisihan, terhindarnya perpecahan dan tercegahnya permusuhan antar anak bangsa.

=======================================
Pada suatu hari di sebuah warung kopi pojok desa yang terpencil, terdapat dua orang pengunjung warung yang berbeda pandangan.
Yang satu mengaku seorang ahli Pancasila dan yang satunya lagi mengaku sebagai ahli Agama.
Lalu keduanya berdiskusi tentang masalah dan problematika umat-bangsa-negara.
Diawal perbicaraan keduanya tampak seperti mesra dan bersahabat hingga tiba-tiba keduanya bersilang kata, bersitegang dengan cara pandang yang bertolak belakang.

Si ahli Pancasila mempertahankan pengetahuannya mengenai Pancasila dengan setumpuk teori akademis, lengkap dengan argumen yang valid dan logis.
Tapi terhadap cara pandang mengenai agama ia pesimis dan meremehkan,
“Agama itu kuno tak lebih dari dogma-dogma dan terma-terma urusan manusia dan Tuhan-Nya, agama tidak akan bisa menjawab masalah dan problematika negara yang selalu berkembang penuh dinamika”, ujarnya. Padahal dia sendiri seorang yang beragama.

Sementara si ahli Agama berdalih dengan bahasa agama dengan segunung ilmu lengkap dengan dalil-dalil shahih, tapi terhadap cara pandang Pancasila dia pesimis dan sinis.
” Pancasila yang selama ini dijadikan oleh NKRI sebagai dasar negara nyatanya telah terbukti tak bisa menjawab masalah dan problematika negara, tak bisa membawa rakyat yang adil dan sejahtera selama 71 tahun Indonesia merdeka”, tandasnya.
Padahal dia sendiri selama ini hidup bebas dalam beragama dan memang dijamin oleh negara yang berdasarkan Pancasila.

Di sebelahnya ada pengunjung lain yang merupakan seorang petani muda dan memperhatikan sejak tadi akhirnya angkat bicara.
Ia hanya seorang awam dan buta mengenai Pancasila kecuali hanya 5 perkara;
Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.
Ia juga awam dan buta mengenai Agama kecuali hanya beberapa perkara;
Bahwa Tuhan yang diyakininya menghendaki manusia untuk memanusiakan manusia, bersatu dan bersaudara, bersuara dengan hikmah kebijaksanaan dan berbuat adil terhadap sesama.

“Tidak penting bagiku apakah itu bernama Pancasila atau Agama, aku mengikuti keduanya. Mana yang terbukti nyata bisa membawa masa depan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi orang yang lemah seperti saya ini, maka itulah yang layak saya bela.
Tapi bila hanya bisa berdebat kusir dalam wacana dan retorika maka tiada manfaatnya dan hanya sia-sia serta bisa menimbulkan perselisihan”.

“Pancasila atau Agama bukan hanya teks semata, tapi seorang yang berpegangkan Pancasila atau Agama adalah seorang yang telah merdeka dari penjara keduanya.
Bisa mengamalkan nilai-nilai dasar dalam keseharian nyata, itulah baru dinamakan seorang ahli Pancasila atau ahli Agama sejati.
Seharusnya seorang ahli Pancasila sudah pasti ahli Agama, sebab kelima silanya merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai agama.
Dan ahli Agama sudah pasti ahli Pancasila, sebab kehidupan beragama merupakan pengamalan dari sila pertama pancasila”, ujarnya sebelum berganjak keluar.

=======================================

citoxnew202
Negara, Agama dan Manusia adalah tiga titik dalam satu garis rantai kasualitas.
Jika negara sebagai jasad maka negara membutuhkan ruh agama untuk hidup.
Jika agama sebagai jasad maka agama membutuhkan ruh manusia untuk hidup.
Jika manusia sebagai jasad maka manusia membutuhkan ruh qudus-suci Tuhan-Nya untuk bisa hidup.
Hulunya, Tuhan selalu menjadi klausa prima bagi manusia yang beragama dan bernegara.
Tuhan membuat “permainan” yang maha unik di alam semesta dan manusia sebagai alat bagi Tuhan sesuai citra pencipataan-Nya.
Dunia sebagai panggung perhelatan untuk menguji manusia sejak era Adam sampai hari kiamat.

Di alam demokrasi tempat digelar sebagai demonstrasi penyulingan saripati cratein-publika, ruh Tuhan mentransformasi dalam ruh manusia.
Dikenal sebagai vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, siapa mengenal dirinya niscaya ia mengenal Tuhannya.
Ketika manusia tak mengenal tuhannya maka ia tak akan mengenal diri dan “kemanusiannya”, tak akan mengenal agamanya dan tak akan pula mengenal negaranya.
Dan ketika manusia tak mengenal apa-apa maka hakikatnya ia gagal hidup, tak hanya gagal beragama dan berbegara bahkan ia gagal sebagai manusia.

– Cinta tanah air mengikat manusia dalam satu bangsa
– Cinta kebenaran mengikat manusia dalam satu agama
– Cinta kebajikan mengikat manusia dalam satu dunia
– Cinta Tuhan mengikat manusia dalam satu bangsa, satu agama, satu dunia dan satu semesta

Terserah mana yang hendak kau ikat
Dengan tali cinta tujuanmu akan kau dapat
Kadang tali-tali itu saling mempererat
Namun kadang pula tali-tali itu saling menjerat

Perselisihan paham yang ditunjukkan oleh orang Jawa, orang Inggris, orang Arab, orang Kutub utara, orang Kutub selatan, orang Khatulistiwa, orang buta, orang bisu, ahli Pancasila, ahli Agama bahkan orang di dunia dan jagat raya nyatanya hanya bisa dileraikan oleh seorang yang Arif dan bijaksana.
Dalam pandangan kacamata orang yang arif dan bijaksana, relatif semua menjadi benar atau semua bisa menjadi salah, tergantung dari sudut mana melihatnya.

Sang arif dan bijaksana telah mengajarkan kita sebagai anak bangsa tentang sebuah kebenaran, tentang sebuah benang merah, tentang sebuah jalan tengah, tentang sebuah solusi dan tentang sebuah keputusan akhir pemikiran.

Arif bijaksana telah mengenal kebenaran absolut sehingga tidak kebingungan dalam perselisihan, dia tahu dari mana perselisihan itu muncul dan tentu saja akan tahu cara meredamnya untuk mengembalikan kata asal muasal manusia.
Kemanusiaan semesta, humanisme universal, tugasnya hanya satu menebarkan cinta metta kurnia,seperti misi “Rahmatan lil’alamin” Muhammad saw, rahmat cinta kasih sayang bagi alam semesta.

Filosofi turun temurun yang ditinggalkan oleh nenek moyang berupa desa mawa tata negara mawa cara, holobis kuntul baris, rambate rata hayo, guyup rukun, Bhinneka tunggal ika dan kemuwafakatan adalah tiang pondasi sebuah rumah yang teramat besar yang bernama INDONESIA.
Bila mana anda merusakkan salah satu dari tiang tersebut maka rumah INDONESIA akan miring dan condong, dan bila anda tidak segera memperbaikainya maka satu tiang yang miring akan bisa berakibat robohnya seluruh rumah.
Singsingkan lengan, berdiri sama tinggi duduk sama rendah,ringan sama dijinjing berat sama dipikul, bangun kembali tiang-tiang pondasi yang miring tersebut demi kokohnya kembali rumah besar yang bernama INDONESIA.

citoxnew201

Oleh Lek U-mar Mentaras. biro Kuala Lumpur
Gambar oleh Patsus Dede Sherman dan Patsus Citox

Share.

19 Komentar

  1. Semuanya memerlukan keseimbangan, yg dpt diraih salah satunya dengan perbuatan dan pandang yang arif bin bijaksana..

    Selamat Hari Pahlawan, a Heroes Day… Battle of Surabaja, The Greatest and Deadly war after Stalingrad..
    Lantunan Doa senantiasa tercurah utk para Pahlawan dan Patriot Bangsa

    Jayalah NKRI

  2. Bismilahirohmanirrohim,Allahuma sholialasayidina Muhammad,Ya Allah,Ya Rahman YaRahim,Ya Malik Ya Kudus Ya Salam ,Ya Mukmin Ya Muhaimin…..Ampunilah Dosa 2 Pejuang Kami, Ampuni Dosa Kedua Orang Tua Kami, Dosa Guru2 Kami,Dosa Kakak Kami, Dosa Muslimin wa Muslimat, Lapangkanlah Kuburnya,Tempat kanlah Mereka di FiMaq’adi Sid’qi Indahmaliki Muqtadir Ya Allah…..Semoga Engkau Ijabah Wahai Zat Yang Maha Tunggal.Wasollohualasayina Muhammad Waalaalihi wasobihi wasalam……Aamiiin.

  3. paparan yg dalam tentang sikon yang sedang terjadi di negeri ini…
    smoga smakin mematangkan negeri ini untuk manjadi bangsa yg besar…

  4. Selamat Hari Pahlawan !!!

    jasa jasamu terpatri di lubuk sanubari yang paling dalam, semoga segala bentuk pengorbananmu tidaklah sia sia, dan semoga Allah SWT menempatkanmu dalam kemulyaan, Amiiiin…

  5. Semoga jasa pahlawan yg diketahui dan tidak diketahui demi bangsa dan negara diampuni dosa dosanya diterima amal baiknya ditempatkan yang layak disisinya.
    para pemimpin, ksatria negara diberi kekuatan dan kesabaran. amin

    mari sejenak mengheningkan cipta..

  6. Wahai Sang Penunai Janji Bhakti..
    Salam Hormat dan doa terbaik dari seluruh anak bangsa selalu menyertaimu.. pahlawan kami..
    Engkau yg berpusara maupun tak berpusara..
    Engkau yg dikenal maupun yg tak dikenal..
    Engkau yg tercatat dalam sejarah maupun yg tak tercatat dalam sejarah..
    Terimakasih atas pengorbananmu…
    Semoga Engkau selalu damai dan bahagia dalam lindungan penciptamu ..
    Semoga kami selalu mampu menjaga negeri yg kau perjuangkan dgn darah dan jiwamu.. Amin YRA
    Adios# edisi menitikkan airmata jika mengingat kondisi negeri saat ini..
    Terimakasih bung Lek Umar sdh mengingatkan..sehat selalu utk anda dan kel..

  7. Coba kalau anak bangsa yang lagi bersilang pendapat saat ini, membaca tulisan ini, saya yakin silang pendapat yang cendrung liar akan bisa diredam. Terimakasih. Semoga bangsa ini terselamatkan dari orang” yang ingin memecah belah persatuan yang telah dirintis oleh pendahulu kita.

Reply To Tibet Cancel Reply