JAWA TIMUR DARURAT CAGAR BUDAYA

7

JAWA TIMUR DARURAT CAGAR BUDAYA

SALAH PAHLAWAN SALAH TEMPAT

deddy120

Karena mungkin salah tempat dan kurang menghargai kearifan lokalnya.

Dewa Perang asing di tanah tempat panglima perang lokal Majapahit : RANGGALAWE … seperti menantang kesannya .

deddy113

IDE CERDAS TAPI SALAH TEMPAT

Membaca harian RADAR JEMBER hari Rabu 26 Juli 2017 tentang lemparan ide mbak Bupati Jember : FAIDA tentang gagasan pendirian MUSEUM KONSTITUSI.

Tanggapan saya sebagai putera daerah JEMBER atas gagasan itu :

Ide tersebut saya golongkan sangat cerdas, karena punya misi agar masyarakat Jember dan siapaun yang datang kemari akan bisa mempelajari perjalanan panjang bangsa dalam penyusunan konstitusi negara Indonesia. Hal tersebut akan meningkatkan wawasan kenegaraan sekaligus kepatuhan warga atas tata nilai sebuah konstitusi.

Tetapi saya menilai ini “IDE SALAH TEMPAT”. Karena sampai detik inipun kabupaten Jember belum memiliki satupun museum yang “mengangkat dan menunjukkan potensi daerah” baik dari sisi sejarah, kebudayaan ataupun peradabannya. Sehingga banyak pihak kurang paham tentang sejarah Jember dari era purbakala hingga saat ini. Mereka belum tentu tahu bahwa di kawasan Puger pernah ditemukan komunitas manusia purba PHITECANTROPUS HOMO PUGERENSIS yang semasa dengan peninggalan megalithikum di kawasan kabupaten Bondowoso. Bahkan anak-anak sekolah ketika ditanya siapa bupati Jember pertamapun … belum tentu bisa menjawabnya.

Dilain pihak KONSTITUSI adalah materi yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan. Maka menempatkan museum konstitusi di Jember menurut saya bukan Tupoksi Kab. JEMBER, tetapi adalah Tupoksi PEMERINTAH PUSAT untuk membangunnya di pusat pemerintahan. Agar ketika semua warga negara datang ke ibukota tidak menimbulkan apriori oleh daerah lain, juga kemungkinan adanya warga negara asing atau tamu asing yang hendak mempelajarinya … ibukota akan lebih masuk akal bila dibandingkan Jember.

Jadi kalau mau membangun museum di Jember, usulan saya adalah museum sejarah, budaya dan potensi daerah akan dirasa lebih bermanfaat. Demikian pendapat saya selaku masyarakat Jember dan pemerhati budaya-sejarah Jawa Timur, agar mendapatkan pertimbangan sebagaimana mestinya.

deddy114

JAWA TIMUR DARURAT CAGAR BUDAYA

Maturnuwun … Terimakasih …
Teman-teman penggiat dan pengawal CAGAR BUDAYA yang dipagi hari buta memberitahukan adanya insiden perusakan CANDI KIDAL (peninggalan Kerajaan Singhasari, pendharmaan dari Raja Singhasari ke-2 : Sri Bhatara Anusapati).

Secara nalar cukup sulit dipercaya karena posisi situs berada di jalan kecil dan mempunyai jarak cukup jauh dari pagar area situs (sekitar 60 – 75 meter), di 25 meter menjelang candi ada turunan terjal dengan beberapa anak tangga. Maka untuk mampu menjebol pagar, melompati anak tangga dan menabrak kaki candi … pengemudi mobil harus melakukan belokan 90 derajat … nabrak pagar … kecepatan tinggi … melompati dua trap tangga … dan membentur di kaki candi.

Ada yang beranalogi … pengemudinya mabuk, ada yang bilang itu dihajar penunggu spiritual, ada yang bilang GPS nya ngaco atau kerusakan sistem mobil dan banyak lagi …

Tapi bagi kami pemerhati budaya dan sejarah meminta agar pihak Kepolisian RI dan PPNS Bpcb Jawa Timur untuk mengusut tuntas kejadian KIDAL ini, dan menghukum pelakunya sesuai KUHP dan UU Cagar Budaya. Karena peninggalan yang rusak, jelas tidak tergantikan.

Ini adalah peristiwa kesekian kalinya kejadian penghancuran situs Cagar Budaya di Jawa Timur, bahkan sudah secara pribadi pada 05 Mei 2017 yang lalu sudah kami laporkan langsung kepada Dirjen Kebudayaan RI dan Direktur Purbakala & Permuseuman. Agar Jawa Timur ditetapkan darurat Cagar Budaya.

Semoga kejadian ini yang terakhir dan menggugah kesadaran masyarakat untuk melakukan perlindungan situs cagar budaya yang ada di sekitarnya.

Kasus Cagar Budaya Jawa Timur :
Perobohan gedung Radio Bung Tomo
Perusakan kota Majapahit Jatirejo & Kumitir
Perusakan situs di Lamongan
Pengurugan lahan memutus akses air Balong Bunder ke kolam Segaran, Trowulan
Pemindahan kerangka situs Candi Kedaton Sumur Upas ke situs Candi Brahu, Trowulan
Perusakan situs Calonarang, Kediri
Perusakan Candi Kidal, Malang
(yang belum tersebut juga banyak). termasuk Pendirian Patung Dewa Perang China di Tuban

deddy116

Pemindahan 5 peti kerangka leluhur Majapahit dari Situs Candi Kedaton Sumurupas ke Situs Candi Brahu.

Beginilah dahulu alibi para pelaku pemindahan 5 peti kerangka leluhur Majapahit dari Situs Candi Kedaton Sumurupas ke Situs Candi Brahu. Dilaksanakan pada 05 Mei 2017.

Kegiatan tersebut tanpa melalui ijin Bpcb Jawa Timur maupun masyarakat Desa Sentonorejo selaku pemangku adat dimana lokasi kerangka ditemukan. Hal ini jelas melanggar ketentuan UU RI Nomor 10 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya.

Bersyukur pada tanggal 16 Juli 2017, Komunitas SAVE TROWULAN dan BPCB Jawa Timur dibantu segenap masyarakat luas berhasil memulangkan ke lokasi semula.

Sejumlah warga dan budayawan melakukan pemindahan 5 peti kerangka jenazah di Candi Brahu, Trowulan, Mojokereto, Jawa Timur, Minggu (16/7). Kelima jasad yang diperkirakan leluhur Majapahit itu sebelumnya dipindahkan dari Candi Kedaton/Sumur Upas ke Candi Brahu pada 5 Mei lalu dan mendapat penolakan dari beberapa masyarakat serta BPCP, karena bertentengan dgn UU Cagar Budaya no 11 tahun 2010. Sehingga budayawan yang tergabung dalam LSM Save Trowulan mengembalikan kelima peti berisi kerangka itu ke tempat semula

JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, demikian salah satu kalimat yang dipopulerkan Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno. Hal ini pula yang tertanam dalam benak puluhan aktivis pencinta situs sejarah yang menamakan diri Aktivis Save Trowulan untuk menjaga keaslian sejarah tersebut.

Bersama dengan warga desa Sentono Rejo, kecamatan trowulan, puluhan aktivis Save Trowulan ini memindahkan lima kerangka mayat peninggalan cagar budaya dari candi brahu ke lokasi penemuan semula di candi kedaton. Sebelumnya sekitar dua bulan lalu, lima kerangka mayat cagar budaya ini dipindahkan paksa oleh Pemkab Mojokerto dari candi kedaton ke candi brahu dengan dalih gelar ritual. Hal ini yang kemudian menuai protes dari para aktifis save trowulan karena dianggap melanggar undang-undang cagar budaya.

Secara estafet dengan berjalan kaki sejauh 10 Km, kelima kerangka mayat tersebut diserah terimakan kembali para aktivis Save Trowulan kepada warga desa Sentono dan petugas BPCB untuk kembali dikebumikan ditempat semula. Sebelumnya selama dua bulan terakhir para aktivis berjuang untuk mengembalikan lima kerangka tersebut.

Kasi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatna BPCB Jatim Edi Widodo mengakui pernah menerima surat dari Pemkab Mojokerto untuk melakukan ritual, namun faktanya justru lima kerangka dipindahkan. Untuk ini BPCB Jatim akan memberikan teguran kepada Pemkab Mojokerto.

deddy118

BISIKAN SANG MALAM

Saat itu malam Jumat Kliwon – 14 Juli 2017, banyak diantara orang yang saya kenal menganggap malam yang keramat secara spiritual.

Mereka mencari berbagai jawaban dan pembenaran atas perjalanan takdir hidupnya hingga saat ini. Perjalanan demi perjalanan panjang telah dilalui, banyak yang semakin tersungkur dalam gelapnya hati. Hanya sedikit yang mampu keluar sebagai pemenang dalam pencarian pencerahannya jiwa ini.

Aku … mungkin bagian dari pandu yang bertugas memberimu tanda itu, agar tidak habis tenaga, pikiran dan sesat jiwamu dalam pencarian ini.

Ijinkan aku berbisik menitipkan pesan pada ujung sang malam … ini lah jawaban yang selama ini kalian cari …

Konon …
Disuatu tempat dimana angin dan badai tak lagi mampu menggelorakan ombak samudra …

Sebuah menara gading berdiri kokoh …
Berlapis emas berhiaskan permata dan mutu manikam yang kemilaunya mampu lunglaikan jiwa …

Berisi pusakanya semesta raya …
Nan elok gemulai dengan ketenangan jiwa yang dalamnya melebihi samudra raya …

Yang mampu membuat …
Yang bergerak jadi berhenti …
Yang bergolak jadi mati …
Yang diam jadi berseri …

Memukau jagad bawana …
Memikat daya asmara …
Menyandera gejolaknya jiwa …

 

SANG PENJELAJAH KEABADIAN

Secuplik fragmen dari cerita GARUDHEYA …
Setelah sang GARUDHA berhasil menaklukan saudara tirinya : para NAGA dan membebaskan ibunya dari penindasan. Dengan kesadaran tingginya, dia mengembalikan “Tirta Amertha” ke swargaloka. Karena itu adalah hak para dewa semata dan bukan hak mahluk yang hidup di dunia. Konon air itulah yang membuat hidup para dewa menjadi abadi dan swargaloka suburnya tiada terperi.

Para dewa sangat terkejut atas sikap ini, karena mereka dahulu telah gagal mempertahankan Tirta Amertha yang direbut dengan perkasa oleh Sang GARUDHA. Kini barulah mereka sadar, bahwa semua itu dilakukan oleh GARUDHA dengan ketulusan tertinggi demi ibunya dan bukan timbul dari keinginan nafsu pribadinya.

Sebagai ungkapan penyesalannya, selain berterimakasih atas dikembalikannya Tirta Amertha para dewa kemudian menganugrahkan gelar warga kehormatan kahyangan kepada GARUDHA. Sebagai warga kahyangan tentunya GARUDHA diberkahi untuk meminum seteguk Tirta Amerta, yang kemudian menjadikannya abadi. Maka selain mendapat berkah sebagai tunggangan Bhatara Wisnu sang penjaga semesta, kini sebagai warga kehormatan swargaloka GARUDHA diberi tugas menjaga Tirta Amertha.

SAYA ADALAH PENERIMA KANUGRAHAN SANG GARUDHA itu … MUNGKIN JUGA ANDA SEMUA …

Dengan mempelajari SEJARAH dan BUDAYA bangsa Nusantara yang seakan tiada habisnya ini, kita akan dibawa jauh ke masa lalu dan bahkan ke masa depan. Tiada lagi ruang dan waktu yang mampu menaklukan kita … tiada lagi keperkasaan yang hilang terhimpit kejadian, karena kita mampu membangunkan getaran DNA pendahulu maupun anak keturunan yang mengalir kental dalam tubuh kita sendiri …

SELAMAT DATANG PARA PENJELAJAH KEABADIAN, MENJAGA PERSADA NUSANTARA DAN MENGHIASINYA DENGAN KEMILAUNYA WARNA DHARMA KEHIDUPAN

Jangan pernah sekalipun menjual martabatmu, ketika nasionalisme tersekat labirin … saat merahnya keberanian kehilangan tujuan benarnya … saat putihnya ketulusan telah kehilangan kesuciannya …

Menepis angin menunggangi badai

deddy119

Jaya – Jaya – Wijayanti

Deddy Endarto untuk MENUNGGANGI MALAM BERMAIN DENGAN CAHAYA SUKSMA
Gambar Patsus Deddy Endarto

Share.

7 Komentar

  1. Ketika sebelumnya, ada sekelompok warga indonesia, yg menyuarakan kekawatiran akan bangkitnya kekuatan jahat yg hendak merongrong NKRI, tp justru mereka yg dituduh hendak makar dan anti Pancasila. Tp sekarang saat satu persatu kebusukan terbuka, akankan rakyat Indonesia akan terus terbuai kebohongan yg di ciptakan demi ambisi pihak asing menguasai Indonesia…

  2. Rakyat tak selamanya bisa dibohongi n diperdaya.. ingat, Garudha senantiasa menjaga nya dari atas langit

    Smga Pemkab Jember membatalkan niatnya yg jd terkesan over line.
    Smga patung Ghuan Yu yg segede gaban dpt di munculkan
    Semoga pelaku perusakan yg begitu aneh dan terencana dpt di ungkap

    Jayalah NKRI. Banyak kejadian dashyat yg terjadi di negeri ini yg sengaja luput dr mata media mainstream..

  3. knp baru heboh setelah patung jendral china berdiri seakan menyampaikan pesan bhw akulah panglima tuban sesungguhnya ?

  4. #miris….sepertinya negeri ini akan dikerdilkan oleh negara lain…kebenaran sejarah di sembunyikan diganti dongeng ilmiah bangsa lain yg didukung pengetahuan….simbol simbol sejarah nusantara tdk diurus bahkan menjadi wingit bagi masyarakat…malah tokoh nggk jelas dibuat patung megah…walaupun dlm tmpat ibadah…agentnya masuk & ktangkap di jakRta & surabaya…patungnya di tuban nanti rusuhnya dimana ?!?!#*&%*@***%&#@@**

  5. Sangat memprihatinkan sekali cagar budaya dan kearifan lokal harus tersisih krn keinginan pribadi dan nafsu manusia yg tdk bertanggungjawab atas peninggalan para leluhurnya. Apakah sdh ada UU kelestarian cagar budaya? Kalau spt ini anak cucu kita tdk akan pernah melihat peninggalan para leluhur dulu yg terlihat malah kemegahan dan terkenalnya budaya impor dan tokoh luar spt jendral kerajaan cina dari jaman dahulu kala ini. Bila cina bisa mengingat dan menghormati leluhurnya ini kenapa bangsa kita hanya terbenggong saja melihat mereka mulai menjajah dan mengimpor budaya mereka.

  6. alangkah bagusx patung di buat berdasarkan kearifan lokal, sejarah nasional & daerah, urban legend, cerita rakyat/nusantara, maaf sy tdk rasis, spt semarang ada patung laksamana cheng ho itu tdk masalah krn berdasarkan sejarah perjalananx

    • Benar. Lebih bagus cari pahlawan / tokoh dr Tuban. Yg saya bingung : Di website K**kus, banyak lho yg malah membela adanya patung ini dan menuduh DPR yg ingin menghilangkan patung tsb rasis… Saya heran itu org cinta Indonesia tidak sih? Kok malah mendukung budaya orang luar? Ditambah lagi mrk cari pembantahan dgn bilang “patung Garuda di Bali kenapa tdk dirobohkan?” Itulah contoh logika penjilat bangsa asing dan aseng.

Reply To kikuk Cancel Reply