Menegakkan Amar Ma’ruf, Nahi ‘anil Munkar dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Era Pasca-reformasi

2

FB_IMG_1508134957345

 

Menegakkan Amar Ma’ruf, Nahi ‘anil Munkar dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Era Pasca-reformasi

Oleh Ir. Jusuf Mahdi, MM.

(Keterkaitan analisa SWOT terhadap kemampuan TNI sebagai alat Pertahanan Negara)

Ketika Indonesia mengalami era reformasi, tujuan sebenarnya adalah adanya penataan ulang sistem manajemen pengelolaan ketatapemerintahan dan ketatanegaraan menuju perubahan, yaitu terwujudnya Clean Government and Good Governance, sebagai pengisian rumah kemerdekaan dalam mencapai kesejahteraan lahir-bathin, aman tenteram kerta raharja, adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibatun war robbuun ghafuur.

Namun dengan tidak adanya grand design dari program reformasi tersebut, maka reformasi kehilangan marwahnya, dan diwarnai adanya berbagai kepentingan golongan dan kelompok, maka terjadilah amandemen terhadap UUD 1945, sehingga penataan sistem manajemen ketatanegaraan dan ketatapemerintahan semakin amburadul dan carut marut, korupsi, suap dll marak, dan untuk jadi pejabat, baik eksekutif, legislatif, yudikatif dll maka uang menjadi bahan utama untuk keberhasilan menduduki jabatan. Pemilu-pilkada yang sarat politik uang, yang pada saat belakangan ini banyak pejabat tertangkap tangan kasus korupsi, suap, mama minta pulsa dlsb, yang mengindikasikan kotor dan rendahnya nilai moral dan mental pejabat negara yang seharusnya dapat dipercaya mengemban amanah dan kepercayaan rakyat.

Untuk implementasi nyata dari hal diatas adalah dengan memahami dan berkomitmen dengan Panca Wasiat, sehingga SDM bisa memiliki sifat Bersih, Jujur dan Amanah dan memahami nilai luhur Pancasila.

 

Sedangkan tools / senjata untuk memahami Panca Wasiat menuju SDM yang Bersih, Jujur dan Amanah adalah Trisula dengan rincian ujung tengah paling tinggi, adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, ujung yang satu adalah menghindari kemaksiatan (amar makruf, nahi’anil munkar), ujung satunya adalah harkat, martabat, derajad mulia yang menjadi tujuan hidup manusia.

Dalam upaya menegakkan amar ma’ruf nahi’anil munkar kita pasti menghadapi AGHT (Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan) yang harus menjadi Kewaspadaan Nasional dimana bermuara harus dimilikinya Self Defence, Pertahanan Negara.

Arti Pertahanan Negara sangatlah luas, dimana kita harus menganalisa segala kemungkinan yang dapat berpengaruh besar terhadap Sistem Pertahanan kita.

dedenew269

Pada uraian saya beberapa waktu lalu, telah saya bahas tentang Ketahanan Nasional dan Kekuatan Nasional sebagai wujud pemberdayaan potensi daerah, bangsa dan negara menjadi pedoman mengisi tujuan dan cita-cita kemerdekaan.

 

Mari kita bahas tentang pisau analisis yang digunakan untuk membedah masalah guna mendapatkan solusi yang tepat, cepat dan jitu.

Perangkat tersebut adalah SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunity, Threat) analysis. Mari kita lihat elemen dan komponen dari perangkat SWOT tersebut.

 

Komponen SWOT terdiri Dua faktor yaitu :

INTERNAL ENVIRONMENT, berisikan : Structure, Culture dan Resources.

EXTERNAL ENVIRONMENT terdiri dari TASK ENVIRONMENT berisikan : Supplier , Employee / Labour Union, Competitor, Trade Association, Communities, Creditor, Customers, Special Interest Group, Government dan Stockholders.

SOCIETAL ENVIRONMENT berisikan : Economic Force, Technological Forces, Political Legal Forces dan Socio Cultural Forces.

 

Dari hal diatas mari kita tinjau kondisi kita saat ini.

Dari Internal Environment : Structure, tatanan ketatapemerintahan dan ketatanegaraan sudah amburadul karena lemahnya sistem manajemen akibat Amandemen UUD 1945 yang diwarnai kepentingan golongan dan kelompok, dimana akhirnya terjadi korupsi, suap, kolusi, sehingga budaya uang melanda semua lembaga dan organisasi, baik pemerintah, swasta dan partai, terutama terkait kekuasaan.

Culture, dimana budaya luhur yang bersendikan kepada nilai-nilai hakiki Pancasila dan illahiah, Moralitas dan Mentalitas, rasa Kebangsaan dan Nasionalisme telah memudar dari sebagian besar anak bangsa, generasi penerus menjadi generasi instant yang ingin cepat berhasil tanpa bekerja keras.

Resources, dimana SDM masih terkendala oleh masalah faktor pendidikan dan kesehatan yang merupakan pilar utama pembentukan manusia seutuhnya.

SDA (sumber daya alam), berupa hasil tambang, hasil hutan, hasil laut dll, yang merupakan barang utama guna dipakai sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tidak dapat diberdayakan secara mandiri, dikuasai asing, aseng dan asong, sehingga kita berketergantungan ke pihak lain, yang membuat Ketahanan Nasional lemah, kita tidak memiliki daya tahan di faktor perekonomian, Industri, dan berbagai hal yang menyangkut keperluan dan hajad hidup orang banyak. Kita tak bisa memiliki kemandirian dalam mengolah SDA yang melimpah di bumi Ibu Pertiwi guna kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

 

External Environment yang berisikan : Task Environment, yang terdiri dari :

Supplier, dimana harusnya bisa memasok sendiri bahan baku segala keperluan industri ringan sampai berat, tidak bisa ditunjang oleh pemasok dalam negeri.

 

Dari sisi Employee / Labour Union , bahwa banyak organisasi buruh, pekerja, karyawan dll disusupi oleh unsur Ideologi komunis, yang gampang menghasut buruh, pekerja, karyawan dll yang tidak mengerti untuk melakukan demo, mogok kerja, menuntut kenaikan upah dlsb, yang dapat mempengaruhi roda perekonomian dlsb. Banyaknya pengangguran, tenaga kerja yang tak berketrampilan, menjadi problem dilematis bagi kehidupan rakyat.

Competitors dengan adanya era globalisasi akan semakin ketat. Maka faktor kualitas, kinerja, kemampuan bersaing, dll menjadi penentu untuk memenangkan persaingan dan eksistensi berkegiatan.

Trade Association, yaitu organisasi bisnis, terutama yang berada di luar negeri yang memiliki pengaruh kuat “TERHADAP” sistem manajemen perekonomian negara yang dapat menekan negara untuk mematuhi kehendak dan keinginan mereka, misalnya sistem kapitalisme, liberalisme dlsb. Berbagai kegiatan perekonomian yang berpengaruh global seperti IMF, AFTA, ASEAN, OKI, WTC, perbankkan, pasar global dlsb berefek terhadap kebijakan, pengambilan keputusan negara.

Communities, yang berupa komunitas, assosiasi, organisasi yang terdiri dari ikatan dari banyak negara, akan menentukan langkah strategik kebijakan pemerintah dan negara.

 

Unsur lainnya adalah Creditor, Customers, Special Interest Group, Government, Stockholders, yang bisa kita analisa seperti diatas.

Elemen lainnya dari External Environment adalah : Societal Environment yang berisikan : Economic Force, Technological Force, Political Legal Forces dan Socio Cultural Forces. Kita bisa melakukan analisa seperti diatas, untuk itu silahkan lakukan.

 

Pengaruh hasil analisa SWOT terhadap Sistem Pertahanan, dengan peran TNI sebagai alat utama sistem persenjataan untuk melakukan Combating, Attacking, Destroying, dimana elemen dan unsur dari SWOT diatas akan sangat berpengaruh terhadap Kekuatan dan Kemampuan satuan tempur TNI, baik dari matra Laut, Udara maupun Darat. Lihat uraian saya dalam tulisan sebelumnya.

_Secara garis besar pengaruh tersebut meliputi kesiapan jenis, macam dan klasifikasi alutsista, kesiapan dan kemampuan dukungan logistik, personil, perawatan, pemeliharaan dan informasi intelijen serta berbagai hal yang berkaitan dengan pengerahan kekuatan (force deployment and force assessment) dalam menanggulangi AGHT.

Kita harus memahami bahwa kekuatan TNI digunakan untuk menghadapi musuh, baik secara phisik maupun non phisik yang dikenal sebagai proxy war.

dedenew373
Untuk itu TNI harus menata dan menyusun ulang Grand Design Doktrin tempurnya menuju sistem yang berwawasan jauh ke depan.

Dalam pengertian dan definisi Internasional, militer / angkatan perang memiliki 2 fungsi, yaitu : Fungsi Security (Pertahanan) dan Fungsi Prosperity (Kesejahteraan), dimana saat terjadi bencana, keadaan darurat dlsb, maka kekuatan militer sebagai mobile power, dikerahkan pada kesempatan pertama untuk melakukan pertolongan, evakuasi, dlsb.

Sedangkan fungsi dan tugas polisi adalah penanganan kriminalitas yang terjadi ditengah masyarakat, tidak memiliki fungsi tempur menghadapi musuh negara yang ingin menjatuhkan atau menguasai negara, dlsb. Maka polisi ditempatkan dalam pengawasan dan struktur Kementerian Dalam Negeri. Maka adanya gagasan Democratic Policing adalah tidak benar dalam sistem manajemen ketatapemerintahan.

Semoga bisa menjadi masukan yang bermanfaat, terutama bagi TNI sebagai benteng NKRI.

 

oleh : Kolonel Laut (purn) Ir. Jusuf Mahdi, Visionary Strategical Spiritual Nation Character Building Center, Surabaya 27122018.

Share.

2 Komentar

  1. Sangat mencerahkan… Agak aneh emang apa maksud dan tujuan dari Democratic Policing? Apakah upaya aseng, asing, dan asong untuk melemahkan pertahanan kita kedepannya?

    Ah emang ngeselin klo liat dagelan para elit kita yang hanya memikirkan isi perut sendiri

  2. Polat Alemdar on

    Negara ini sudah dicengkeram oleh koalisi pemburu rente, Marxis, liberal, fasis dan sejenisnya dengan memanfaatkan wayang berwatak lemah. Offtopic: Selamat atas tingkeban putra Senapati Bahari. Saya dengar panjangnya 138m ya?