Evakuasi Air Asia QZ8501: Saatnya Unjuk Kemampuan Sonar Kapal Perang TNI AL

10

Evakuasi Air Asia QZ8501: Saatnya Unjuk Kemampuan Sonar Kapal Perang TNI AL

Jum’at,02-01-2015
Secara tak langsung, momen evakuasi korban dan pencarian badan pesawat Air Asia QZ8501 menjadi ajang unjuk kemampuan alutsista bawah air, khususnya pada kinerja perangkat hull mounted sonar (sound navigation and ranging) yang ada di beberapa kapal perang TNI AL. Tak tanggung-tanggung, misi pencarian yang terkendala gelombang tinggi ini melibatkan beberapa kapal perang TNI AL, sebut saja KRI Bung Tomo 357 dan KRI Sultan Hasanuddin 366 SIGMA Class. Kedua korvet ini mewakili alutsista terbaru dan tercanggih TNI AL saat ini.

Tak hanya kedua korvet anyar yang digelar TNI AL di kawasan Selat Karimata, masih ada jawara TNI AL lain yang diikutkan, yakni KRI Yos Sudarso 353 dari frigat Van Speijk Class. Sebagai kapal-kapal perang utama dari Satuan Eskorta Komando Armada Timur, baik korvet dan frigat dilengkapi hull mounted sonar untuk misi AKS (anti kapal selam). Perangkat ini ditempatkan di bawah lambung, bisa di tengah atau bisa juga di lambung depan. Seperti KRI Bung Tomo 357 dilengkapi hull mounted sonar besutan Thales Underwater Systems TMS 4130C1. Sementara SIGMA Class KRI Hasanuddin 366 dibekali Thales Kingklip medium frequency active/passive. Kemudian KRI Yos Sudarso 353 dibekali sonar Thales PHS-32.

Secara umum, hull mounted sonar dirancang untuk mendeteksi keberadaan kapal selam lawan, dan menteksi ancaman yang berasal dari torpedo dan ranjau laut. Karena ditempatkan di bawah lambung, kemampuan deteksi hull mounted mencapai 360 derajat. Mengenai kemampuan dan spesifikasi teknis antar jenis hull mounted sonar tentu ada perbedaan. Sebagao contoh sonar Thales PHS-32 yang ada di KRI Yos Sudarso 353, dapat melalkukan automatic tracking hingga empat sasaran sekaligus. Thales PHS-32 juga ditanam pada frigat KRI Fatahillah 361 dan KRI Ki Hajar Dewantara 364. Kemampuan hull mounted sonar juga mampu mendeteksi keberadaan logam yang ada di dasar laut.

Soal kemampuan deteksi bergantung pada kemampuan frekuensi dan bandwidth yang digunakan. Untuk sonar Thales PHS-32 dapat mendekteksi hingga kedalaman ribuan meter. KRI Fatahillah 361 berhasil mendeteksi keberadaan logam pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Saat itu kedalaman logam yang berhasil di deteksi berada di kedalaman 1.600 meter.

Selain hull mounted sonar yang ada di korvet dan frigat TNI AL, armada TNI AL juga mengerahkan side scan sonar. Sonar jenis ini berupa konsol yang diturunkan ke dalam laut, yang pengoperasiannya dengan cara ditarik lewat kabel dari kapal pengendali. Side scan sonar menjadi kelengkapan pada kapal pemburu ranjau Tripartite Class. Ada dua kapal buru ranjau di Tripartite Class, yakni KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712. Lambung kapal ini dibangun dari material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik, yakni mengadopsi jenis plastik yang diperkuat dengan kaca (glass-reinforced plastic atau GRP). Untuk perangkat buru ranjaunya menggunakan sistem sensor dan processing 1 unit Sonar DUBM, 1 Thales underwater system TSM, side scan sonar, Sonar TSM 2022, 1 SAAB Bofors Double Eagle Mk III Self Propelled Variable Depth Sonar, dan 1 Consilium Selesmar Type T-250/10CM003 Radar. Selain kemampuan sonar KRI Pulau rengat juga memiliki PAV (Poisson Auto Propulsion), sejenis kapal selam selam tanpa awak yang sanggup mendeteksi keberadaan pesawat di laut dalam. kapal selam ini mempunyai jangkauan satu kilometer dengan kemampuan penetrasi hingga kedalaman 500 meter.

Mengingat medan pencarian yang cukup luas, informasi terkini juga menyebut kehadiran kapal KM Baruna Jaya IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kapal buatan PT PAL ini dibekali alat sensor sonar yang dapat mendeteksi bentuk atau objek di permukaan laut sedalam 2.500 meter. BPPT juga akan membawa alat sensor sonar portabel yang mendeteksi di kedalaman 250 meter.

alam operasinya, sonar dapat menjalankan mode multi beam untuk penyebaran sinyal sonar. Artinya, sinyal sonar yang dikirim dapat menjangkau permukaan atau objek di sekitar jalur kapal. Ini berbeda dengan single-beam yang sinyal sonarnya hanya dapat menjangkau garis rute yang dilewati kapal, sehingga objek atau permukaan di sekitarnya tidak terdeteksi.

Ketika dipakai untuk mencari benda di dalam air, Sonar akan menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi serta menetapkan lokasi objek bawah laut. Data suara akan dipancarkan ulang ke operator melalui speaker untuk kemudian ditampilkan ke monitor dalan wujud visual. Data-data itu berasal dari hasil pantulan gelombang suara yang dikirim ke bawah permukaan laut. Selama ini Sonar telah dipergunakan untuk mendeteksi kapal selam, ranjau, mendeteksi kedalaman, menangkap ikan secara komersil, keselamatan dan berkomunikasi di laut. (Gilang Perdana)

Sumber : IndoMiliter

Share.

10 Komentar

  1. Yup,, optimis pasti akan ketemu, selain sonar kapal2 perang kita sudah lbih canggih, lautnya jg tdk terlalu dalam

  2. Nyoroti yg lain ah… itu paling di kedalaman laut lontong kita sama asu pada pelotot2an ya…. mumpung ada bencana ada alasan nylonong tuh kemari… sekalian pamer distronya. Cukup semur lah sama u 214 dan fregat aj dah. Belum lagi si dedek rafa cilukba si raptor ya…. 😀 maaf nyampah. Smg korban dapat ditemukan semua dan dapat dianalisa black boxnya shg diketahui penyebabnya dan kedepan dpt diminimalisir angka kecelakaan tra sportasi udara. Salut Buat jajaran TNI khususnya TNI AL dan Basarnas tentunya.

    • lhoh kan di lokasi kedalaman nya hanya 30 meter.

      mungkin yang abang maksudkan di tempat lain kali ya, lontong sampai pelot2an kayak gitu?

  3. Kaprang permukaan unjuk gigi udah gempar..bagaimana armada siluman bawah airnya nongol bisa bisa kawasan asean ga bisa tidur nyenyak tiap malam

  4. Jangan sampe dah tuh asu ikutan nyalain sonarnya.. sebenernya cukup dengan kemampuan dr pihak TNI AL saja mungkin pertimbangan pemerintah tidak enak hati menolak bantuan mereka tp dgn syarat dan ketentuan yg berlaku.. 😀

Leave A Reply