PAHAMI SIAPA SEJATINYA LAWANMU ITU

10

PAHAMI SIAPA SEJATINYA LAWANMU ITU, AGAR BISA DIRIMU MENEMPATKAN DIRI KETIKA MENGHADAPINYA

deddy33

Saat ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa harus menghadapi SANG HYANG BHATARA KALA, bagian keseimbangan dunia yang membawa kesengsaraan, kesialan dan celaka.
Maka ada baiknya kita mengenal sosoknya maupun sejarah keberadaannya.

Menurut Kitab Kuno KALA TATTWA yang menceritakan riwayat kelahiran BHATARA KALA : SANG HYANG BHATARA KALA adalah anak ke enam (bungsu) dari DEWA SIWA yang juga bergelar SANG HYANG MANIKMAYA juga bergelar SANG HYANG BHATARA GURU ya SANG HYANG JAGADNATHA ya SANG HYANG MAHADEWA dengan DEWI UMAYI atau DEWI UMA.
Pada suatu hari Dewi Uma meminta kepada suaminya : Sang Hyang Bhatara Guru untuk turun melihat keindahan marcapada (dunia) guna menghibur hatinya. Oleh sang suami keinginan itupun dipenuhi, berdua turun ke marcapada dengan menunggangi Lembu Nandini.

Setelah seharian menikmati keindahan bhumi Jawadwipa, menjelang sore (lingsir surya) keduanya memutuskan kembali ke kahyangan Suralaya. Ketika perjalanan sampai diatas samudra luas tanpa batas, saat itu adalah Candi Kala dimana matahari bersinar lembut keemasan menerpa semesta raya. Dan yang luar biasa adalah ketika cahaya emas itu menimpa wajah dan tubuh Dewi Uma, seakan mampu merubah kecantikan sang dewi menjadi lebih sempurna tiada tara. Kulit tubuhnya berkilau dan wajahnya memancarkan kecantikan tak terkira.
Tergeragap Sang Hyang Bhatara Guru dalam pesona tingkat tinggi melihat pemandangan di depannya, bak lupa diri bahwa yang didepannya sesungguhnya istrinya sendiri yang terkena daya pikat cahaya keemasan sang surya.

Seakan-akan hilang sudah semua akal dan tata kramanya, direngkuhnya sang istri dengan kasar guna diajak bersetubuh saat itu juga.
Terkejut Dewi Umayi menerima perlakuan sang suami diluar kebiasaannya yang santun dan bertata krama, dan bersikokoh mempertahankan tata krama pribadi menolak kemauan sang rajadewa. Karena sadar dirinya berada di marcapada dan diatas tunggangan Lembu Andini, bila menuruti kemauan sang suami tentu seisi semesta maupun Lembu Andini melihat perbuatannya bersenggama dengan suaminya.
Tetapi bak kesetanan Sang Hyang Bhatara Guru merengut kain panjang sang istri, merasa terdesak tanpa sadar (reflek) Dewi Uma bersabda / menyumpahi (nyepatani) perlakuan sang suami bukanlah perlakuan kaum Dewa tapi lebih kepada perlakuan kaum Raksesa yang tidak dapat menahan diri. Karena sang istri juga seorang dewi, sabda tersebut menjadi kenyataan dan muncul gigi taring di mulut Sang Hyang Bhatara Guru.

Ditengah upayanya memaksa sang istri, rupanya nafsu asmara dari Sang Hyang Bhatara Guru memuncak dengan hebatnya. Dan muntahlah Kama = bibit kehidupan (sperma) darinya dan jatuh ke samudra luas. Setelah semuanya mereda, barulah keduanya melanjutkan perjalanan menuju kahyangan Suralaya.
Beberapa lama kemudian, di samudra yang sama berjalan beriring Sang Bhatara Brahma dan Sang Bhatara Wisnu. Keduanya terkejut melihat ada benda berkilauan di dasar samudra. Setelah dihampiri tahulah keduanya bahwa itu Kama atau bibit kehidupan milik para dewa yang jatuh ke samudra, atas kelebihan yang dimilikinya keduanya juga tahu bahwa itu Kama dari Sang Hyang Bhatara Guru.

Menyadari hal itu, maka keduanya segera melapisi sang Kama dengan mantra pelindung serta menitipkannya kepada samudra untuk membesarkannya serta meminta penguasa lautan Sang Hyang Baruna agar turut menjaganya.
Tiga tahun setelah itu, bibit yang tumbuh telah tiba untuk dilahirkan. Selaput pelindungnya lepas satu demi persatu dan muncul bayi tetapi dalam ukuran sangat besar dan bertaring. Bayi ini tidak mirip derajat para dewa tetapi lebih mirip dengan perawakan para raksasa. Perilakunya murni seperti kaum raksasa, semenjak terlahir kemauannya untuk makan sesuatu sangat rakus adanya.

Sekali makan bayi raksasa ini menangkapi ratusan ikan di samudra raya dan melahapnya, semakin lama semakin besar tubuh sang bayi raksasa maka semakin banyak juga penghuni laut menjadi mangsanya.
Hal ini tentunya menjadi keprihatinan bagi Sang Hyang Baruna ketika setiap saat melihat rakyatnya di mangsa oleh sang bayi raksasa.
Maka ditegurlah sang bayi oleh Sang Hyang Baruna, bukannya menghentikan kemauannya sang bayi bahkan hendak pula menjadikan Sang Hyang Baruna sebagai mangsa. Pertempuran keduanya tak terhindarkan lagi, tapi terkejut Sang Hyang Baruna ketika bertempur dengan sang bayi raksasa tidak satupun senjatanya mampu melukai. Menyadari dirinya bisa setiap saat terancam, Sang Hyang Baruna tinggal gelanggang melarikan diri, karena dahulu yang menitipkan bayi adalah Sang Hyang Bhatara Brahma dan Sang Hyang Bhatara Wisnu maka kali ini tujuannya adalah kahyangan Suralaya guna meminta pertanggung jawaban keduanya.

Di kahyangan Suralaya, Sang Hyang Baruna mengadukan nasibnya kepada raja para dewa Sang Hyang Bhatara Guru didampingi oleh Bhatara Narada. Memahami keinginan Sang Hyang Baruna, maka diutuslah Bhatara Narada memimpin pasukan para dewa guna membantu sang penguasa lautan.
Tak kurang dari Bhatara Brahma, Bhatara Indra dan Bhatara Bayu memimpin pasukan dewa menuju samudra guna melumpuhkan bayi raksasa itu. Saat terbang menuju samudra, rombongan para dewa dikejutkan teriakan heboh di daratan. Disana terlihat seorang raksasa sedang berlarian mengejar para manusia dan hewan darat untuk dimangsanya hidup-hidup.
Terkejut Sang Hyang Baruna melihat sang raksasa, karena itu adalah bayi raksasa yang merusak isi samudra dan kini tumbuh semakin besar. Rombongan para dewa pun diberitahu bahwa raksasa itulah yang harus ditangkap dan dibawa ke Suralaya.

dedenew98

Segera Bhatara Narada memerintahkan pasukan para dewa menggempur dan melumpuhkan raksasa itu segera. Bergerak cepat para dewa mengepung dan berusaha melumpuhkan, tapi yang terjadi sebaliknya. Pasukan para dewa bak semut melawan gajah, tak satupun pukulan maupun senjata para dewa mampu melukai sang raksasa denawa. Justru tak jarang pasukan dewa dibuat kocar-kacir dihempas kesaktian sang raksasa.

Mendidih hati senopati para dewa melihat pasukannya porak poranda, Bhatara Indra segera mencabut pusaka andalannya Sang Chandrasa, melesat anak panah pusaka diiringi suara bergemuruh menuju tepat di dada sang raksasa menimbulkan ledakan menggelegar. Jatuh terkapar sang raksasa, tapi terlihat tertatih-tatih bangun seakan tidak merasakan daya aji pusaka Bhatara Indra.
Tidak mau kehilangan kesempatan melesat Bhatara Bayu sambil menghunus pusaka Pancanaka nya, konon pusaka ini mampu meluruhkan gunung ketika ditancapkan. Tetapi betapa terkejutnya Bhatara Bayu ketika menghujamkan Pancanaka berulang kali ke tubuh sang raksasa, tak satupun tusukan pusakanya mampu menembus kulit sang raksasa. Pergumulan tak terelakkan lagi, saling hantam dan banting dengan ukuran tubuh tidak berimbang membuat Bhatara Bayu agak kedodoran juga.
Dirapalnya ajian Bayubajra yang mampu mengeluarkan angin topan dari tubuhnya, angin kencang bergulung-gulung menghantam sang raksasa, bukannya menghindar sang raksasa justru menabraknya dengan keras sehingga puting beliung itu terpental balik menghantam Bhatara Bayu hingga terlempar jauh.

Tak mau ketinggalan Bhatara Brahma segera turun tangan dengan langsung melakukan triwikrama, tubuhnya juga berubah menjadi besar dan mengeluarkan api yang berkobar dari tubuhnya. Sebuah bara api berukuran besar dilempar kencang menuju sang raksasa. Sekali lagi bukannya menghindar, si raksasa malah membuka mulutnya dan mampu mengeluarkan api yang tak kalah besarnya. Dua api beradu keras meledak melemparkan keduanya dan membakar daratan disekelilingnya. Si raksasa bangkit perlahan tanpa kurang satu apapun, menyadari hal ini segera Bhatara Narada memerintahkan pasukan dewa agar segera menarik diri menghindari jatuhnya korban dan kembali ke Suralaya …

BERSAMBUNG …
by Patsus Dedy Endarto Wilwatika
Gambar by Google dan Patsus dede sherman

Share.

10 Komentar

  1. hanya wisanggeni seorang anak yg tdk diakui oleh raja para dewa tapi sgt ditakuti oleh para dewa yg sanggup membunuh batara kala. wisanggeni jg mendpt perlindungan dari ayahnya batara guru krn wisanggeni adlh titisannya.

    • kisah wisanggeni yg bersedia berkorban dlm perang baratayuda bisa mjd tauladan bagi kita. sebetulnya kalau wisanggeni bisa ikut perang baratayuda, semua yg dihadapinya bisa dia kalahkan disisi kurawa. wisanggeni anak arjuna titisan sang hyang wenang.

  2. ni maknanya RI bisa spt ni juga tdk? dapat kesaktian dari bangsa lain asal mau bela kepentingan asiong? mantap deh klo gt urutan 10 kata menhan tp tetap aja kalah klo ketemu Sang Hyang Bhatara Guru. Siapakah bhatara guru?

Leave A Reply