untuk JATIDIRI NUSANTARA

9

PENDOWO MAIN DADU

deddy56

Penanya :
Mas … ini Goro-Goronya temanya apa ? Mohon penjelasan agar kami bisa menempatkan diri.

Jawabanku :
Menurut pakem kejadiannya, PENDOWO MAIN DADU …

Penanya :
Waduh, katiwasan dong ini. Bisa-bisa negara kita tergadaikan kepada pihak lain akibat perjudian. Bagaimana jalan keluar yang baik, agar kita selamat.

Jawabanku :
Itu memang pakem yang sedang di mainkan dalang saat ini. Hasilnya sudah kita ketahui bersama seperti dalam cerita itu. Tapi saya punya senjata pamungkas untuk menghentikannya. Tenang saja sampeyan.

Penanya :
Yang benar mas … semoga, ini serius banget nasib bangsa ini …

Jawabanku :
Iya serius … wayang ini yang nanggap kan saya, kalau dalangnya tidak mau menghentikan cerita sampai di fase goro-goro saja ya nggak saya bayar. Dan tadi pas saya bisikin, dia manggut-manggut paham kok itu …

Kesimpulannya :
Wayang itu kalah sama Dalang, dan Dalang kalah sama yang punya hajat atau yang nanggap. Jadi jangan tempatkan dirimu jadi penonton saja, sekali-kali dalangnya yang nurut dirimu karena pemilik hajatnya.

 

Di TAIWAN, ternyata ada suku yang dianggap asli tetapi “berwajah NUSANTARA” : Suku PAIWAN. Apakah dahulu TAIWAN itu bagian dari Nusantara ???

deddy57

Hahahahaha serem iki …..
Saling argumen sebetulnya tujuannya sama menuju INDONESIA lebih bermartabat dan menggapai cita-cita bangsa. Sekarang yang masalah ini kan kendaraannya, mau pakai kendaraan milik sendiri ataukah menyewa kendaraan pihak lain dengan tarif sewa bervariasi. Mau PANCASILAIS yang asli pemikiran INDONESIA ataukah model KOMUNIS, KAPITALIS ataukah SYARIAH milik pihak lain. Kalau toh mau bergaya NASIONALIS semua sih bisa dikemas dalam bentuk yang hampir sama.

Oalah … argumen kok macem-macem, ya jelas nantinya akan melahirkan gaya pemerintahan yang berbeda to ini. Mungkin kalian pemimpinnya sama orang Nusantara bisa paham, lha tapi sponsormu yang punya kendaraan apa bisa seperti itu. Nyatanya sekarang saja mereka sudah siapkan proposal balas jasa ini dan itu yang menguntungkan mereka dan merugikan bangsa ini, itu jadi tanggung jawab siapa nanti ? Lha pemimpin rombongannya ya kalian sendiri tidak berani jamin kok rakyat yang diminta memaklumi ….. iki mbiyen sopo to yang melakukan fit and proper test ke mahluk ini ?

Sekarang kalau sudah genting keadaannya baru menabrak kami. Dahulu kan pernah kami ingatkan, yang dibutuhkan itu yang berani mengambil resiko didepan memimpin plus menghadapi masalah serta menyiapkan tameng jalan keluarnya. Lha kalau lempar batu sembunyi tangan, ada masalah malah lari dan rakyat disuruh hadapi ….. wiiiiikkkk sopo sing gak iso gaya ngono kuwi …

Ingat ….. negeri ini meletakkan pondasinya sudah ribuan tahun. Dan jangan punya sedikitpun pemikiran menggerogoti kebesarannya demi keuntungan pribadi atau golongan, sebab rakyat negeri ini bisa menghukummu dengan pedih. Mereka bisa kehilangan rasa takut dan rasa menahan diri, sudah terbukti di banyak medan perang kita bahwa pasukan besar negara lain harus hancur lebur di tanah becek bernama Nusantara. Dahulu harapan kami sang calon pemimpin mendekati para tokoh ADAT dan AGAMA negeri ini, sebab merekalah pilar utamanya. Ketika salah satu diabaikan dan memilih untuk DIAM, kalianlah yang kelimpungan dan sang tokoh tidak merasa kehilangan apapun atas kekuasaan negeri ini. Bila saja kalian tak bisa menjaga hati, sikap dan persatuan, mereka masih punya puluhan kartu truff mematikan yang akan digunakan menyelamatkan bangsa ini.

Apa bisamu melawan kekuatan asli pemilik kedaulatan ? Kalau saja mereka bilang sudah kami relakan “puluhan triliun rupiah ongkos pemilihan ini, dan kami mau mengulangnya dari awal lagi dengan calon lain yang akan lebih ketat kami seleksi” ….. apa coba jawabmu ? ….. kedaulatan dan hukum ada ditangan rakyat lho ….. ya silahkan balikkan modal kepada sponsor dari kantongmu sendiri. Negeri dan bangsa ini lebih mahal dari puluhan triliun yang sudah menguap dan kami relakan, kami hanya butuh persatuan dan pembangunan dipimpin ksatrya sejati yang berpikir, berjuang dari dirinya sendiri.

dedenew276

untuk MENEMUKAN 9 PEMBAWA GENTA GUNA MEMBANGUNKAN SANG NAGA NUSWANTARA

Wah rupanya para Naga Wilwatikta sudah sedemikian sewotnya dalam pertemuan ini. Tapi memang pantas, sebab dipundak merekalah para pengampu keputusan nagari yang bertumpu pada keamanan dan kemakmuran bangsa. Ini jelas bukan lagi saatnya GARUDEYA ataupun GARUDHAMUKHA yang harus dimainkan, ini saatnya GARUDHA YEKSA menarikan kebesarannya. Seekor Garuda mahluk perkasa, ditunggangi Dewa Wisnu penjaganya semesta dan bersenjatakan upat-upati para Naga yang mematikan bagi lawannya. Permainan dinaikkan satu level dari “level mahluk perkasa” menjadi “level para dewa” dikejar waktu sempit yang tersisa.

Kanjeng Panembahan ri Pawitran, mohon petunjuk paduka : Sesungguhnya berapa jumlah “Naga” yang hendak kita bangunkan ini ? Dan mengapa semesta harus seheboh ini kondisinya ?

Akupun tersenyum sambil memandang hamparan semesta dari atas ketinggian puncak Pawitran yang berselang seling tertutup kabut tertiup semilir angin.

Dan akupun menjawab lirih : Kita membawa pulang 10 pataka utama Wilwatikta ke Kedaton Kahuripan, dan ada 9 yang berwujud naga. Apakah kalian paham artinya ?

Sesungguhnya Naga yang kita bangunkan adalah 1, Naga Nuswantara yang merupakan penjaga kejayaan Nuswantara. Dan saat ini sedang dalam tidur panjangnya karena bertapa. Ketahuilah 9 pataka itu mewakili sang pembawa genta pembangun Naga. Mereka adalah pemimpin yang linuwih dibidangnya. Pada saatnya nanti mereka akan bertemu dan bersatu dalam dharma yang sama, membunyikan genta dengan kerasnya untuk membangunkan sang Naga dari tidur panjangnya.

Kalau saat ini semesta heboh dan berguncang, itu karena sang pembawa genta membunyikan genta dalam ketidak beraturan irama. Mereka sedang saling mencari dimana posisi pembawa genta lainnya. Dunia mengenalnya sebagai tahapan Gara-gara.

Maka itu wahai putera-puteri nagari, siapkan dirimu di jalannya dharma. Saat nanti kalian mendengar riuhnya suara genta serentak membangunkan Naga Nuswantara, kalian sudah pada posisi yang benar menyambut kejayaan yang bangun di negerimu Nuswantara ini.

NOGO MULUK SINONGGO NAWA JALMO : Naga terbang dalam kejayaan disangga sembilan pemimpin utama.

deddy47

JADILAH PENGUASA & TUAN RUMAH YANG BAIK

Semalam ngobrol dengan teman di Taman Bungkul tentang manusia JAWA yang sudah kehilangan dan malu atas adat KEJAWAANnya. Ber argumen bahwa itu salah kita sendiri ataupun karena faktor luar, yaitu hadirnya para tamu yang membawa adat dari seberang yang menghapus budaya lokal dan menggantinya dengan budaya dari negeri asal mereka.

Sesampai di rumah, saya teringat petuah ketika bercengkrama dengan kebesaran leluhur SRI TRIBHUWANARESWARI, beliau adalah putri sulung SRI KERTANEGARA (raja terakhir Singhasari) yang juga permaisuri raja pertama Majapahit : SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA (Raden WIJAYA). Kalau saja kerajaan Singhasari tidak runtuh, beliau inilah yang dipersiapkan menjadi pewaris tahtanya. Karena sudah dipersiapkan sejak kecil, pengetahuan beliau sangat luas diberbagai bidang keilmuan termasuk memahami nuansa atau perasaan hati ketika harus mengambil keputusan sesulit apapun.

Banyak kejadian besar di Majapahit yang bisa terselesaikan dengan damai atas keputusan yang beliau ambil, walau untuk itu harus mengorbankan perasaan hatinya dan tampil sempurna didepan rakyat guna menentramkan semestanya. Hal itu semakin membuat para militer eks Singhasari maupun asli Majapahit begitu menghormati sabda “Reseping madu Trahing kusumo” dari penerus dinasti Rajasa ini. Mereka menggelari beliau Sang Dewi Parwati nya Wilwatikta.

Salah satu nasehat beliau kepada kami adalah : “Jadilah Penguasa dan Tuan Rumah yang Baik”. Sebagai kerajaan besar, Singhasari pada eranya sudah menjadi salah satu tujuan utama perdagangan di kawasan Asia. Kehadiran pedagang yang multi etnis, ras, bangsa dan agama di tanah Nusantara menjadi bagian daripadanya. Sesungguhnya sifat dasar manusia itu culas, serakah, tamak dan egois. Cepat atau lambat, bila sifat itu muncul akan menyebabkan satu golongan ingin menguasai golongan lainnya bahkan alam sekelilingnya. Dan itu jugalah yang terjadi di era Singhasari dan Majapahit. Pertentangan dengan latar belakang ego adat, ras, etnis, bangsa dan agama pun juga marak. Bila ini dibiarkan tentunya akan memecah belah rakyat, menghancurkan sendi perekonomian bahkan perang lintas agama dan keyakinan.

Dalam pemikiran beliau, diperlukan tata aturan dan wasit yang adil dan kuat pengaruhnya. Dan yang bisa berperan untuk itu adalah penguasa atau raja beserta para bangsawan yang ditugasinya. Penguasa yang adil tadi juga harus menjamin bahwa semua tamu diperlakukan baik dan merasa nyaman tinggal di Nusantara. Hukum tertulis diperlakukan dengan tegas tanpa pandang bulu kepada semua golongan, walaupun ada dua sistem hukum yang berlaku : yang diperuntukkan pribumi dan untuk para tamu. Para pejabat dilarang memakai atribut salah satu golongan (menghindari kooptasi) bahkan menyembunyikan identitas keagamaan di depan umum (karena agama adalah pusaka suci milik sang mahluk dengan Tuhan nya yang pantang dijadikan alat kepentingan di dunia). KEADILAN dan HUKUM YANG TEGAS tadi ternyata mampu meruntuhkan upaya menggoncang stabilitas kerajaan, dan menjadikan para warga dan tamu merasa nyaman tinggal di Nusantara.

Tetapi dunia itu selalu dinamis dan keserakahan yang terpenjara senantiasa mencari jalannya untuk berkuasa. Ketika para tamu tidak lagi bisa mempengaruhi tuan rumahnya, mereka justru berupaya mempengaruhi masyarakat sekelilingnya dengan berbagai cara dan alat (ekonomi, agama, adat, ras dan budaya). Ujung-ujungnya adalah sama, keinginan golongan tertentu mendominasi sumber daya menindas golongan lainnya. Jengah dan kelimpungan para pejabat yang ditugasi menghadapi hal ini, sampai ada petunjuk dari sang permaisuri. PERLAKUKAN DENGAN TEGAS DAN BAIK, BILA TETAP BERSIKOKOH TUNJUKKAN KEPADA MEREKA BAHWA KITALAH TUAN RUMAHNYA, DAN MEREKA DISINI HANYA TAMU.

Konon para pejabat utama sampai diajari sendiri oleh beliau tentang beberapa ilmu wingit yang seharusnya hanya untuk para raja semacam : PAYUNG MAKUTHARATU, CEMETI GUMBOLO RATU, SEKAR KALOKA dan BUBU KENCANA. Semua di dedikasikan kepada sistem pemerintahan yang baik dan berwibawa serta mengatur hukum tegas bagi warga sendiri dan para tamu. Sejak itu, sulit bagi para tamu memimpikan berkuasa di Nusantara selain tunduk pada hukum adil yang dijalankan para penguasa.

Kembali ke masa sekarang. Adalah keprihatinan yang amat mendalam, ketika mencermati perikehidupan saat ini. Dimana etnis dan ras tertentu merasa lebih dominan dibidang ekonomi, kemudian dengan alat ekonomi itu menekan budaya lokal yang justru menjadi tuan rumah. Beberapa usahanya menghapus identitas lokal juga berhasil dilakukan dengan menggandeng agama sebagai alatnya. Bahasa, pakaian, perilaku, tata nilai dari peradaban lokalpun teraniaya bergeser dengan pengaruh negeri seberang. Anak-anak negeri diejek tidak modern bila tampil menggunakan atribut adatnya, bahkan kejadian berlaku kejam ketika agama pun dipakai sebagai alat kekuasaan. Dominasi mayoritas keagamaan bisa menindas agama minoritas. Klaim sesat dan layak diperangi muncul dari hati yang panas bak bara neraka tetapi mengaku makelarnya sorga.

Seharusnya ini semua mampu kita atasi, bila kita mau menjalankan nasehat SRI TRIBHUWANARRESWARI. Butuh pemerintahan yang kuat dan tidak terkooptasi golongan manapun, yang membuka mata semesta siapa sesungguhnya tuan rumah atau tamu di negeri ini. Kembali ke JATIDIRI PRIBADI bukanlah pilihan, tetapi adalah KEWAJIBAN. Karena leluhur memilih kita yang sadar untuk bertindak sebagai penguasa dan tuan rumah yang baik bagi semesta di sekelilingnya bernama Nusantara.

Dalam negeri yang besar ada orang-orang besar (pemimpin, ulama, guru, seniman dan budayawan) yang senantiasa memberi pencerahan, mengasah ilmu pengetahuan dan menghaluskan budi pekertimu. Akal, Nurani, Adat dan Agama adalah anugrah TUHAN terbesar dalam sejarah kehidupan manusia.

Jadi jagalah anugrah itu (keempat-empatnya) secara adil, agar tidak engkau sesali ketika kegelapan nafsu menghampirimu. Sebab pada keempatnya bersandar harapanmu.

Kekuatan AKAL …
Kekuatan NURANI/HATI …
Kekuatan ADAT …
Kekuatan AGAMA …

Mereka ada guna melengkapi penciptaanmu …

Jika kita hilang keseimbangan menguasai 4 alat bantu kita : bila kehilangan Akal jadi gila, bila kehilangan Nurani jadi telengas, bila kehilangan Adat jadi tidak bertatakrama, bila kehilangan Agama atau Keyakinan jadi tidak paham tujuan hidupnya. Jadi semuanya penting dan jangan sampai hilang salah satunya dari Anda.

(Iki Fatwa ku dewe … ojok mbok goleki nang kitab suci. Golekono nang kitab ROHANI KESADARAN mu pasti onok lah … mbuh ayat piro iku)

deddy58

CELENGAN : METAFORA PERADABAN MAJAPAHIT
(Sebuah telaah Anthropologi Budaya)

Seperti yang banyak kita ketahui, salah satu peninggalan artefak yang fenomenal di era Majapahit adalah berupa penyimpan uang logam berbentuk “Babi” yang disebut dengan CELENGAN berbahan dari tanah liat bakar atau tembikar. Ada berbagai variasi bentuk dari celengan babi khas Majapahit ini.

Menurut kosa katanya yang berasal dari bahasa Jawa Kuna atau Jawa Kawi, terdiri dari : CELENG + AN (akhiran). CELENG sendiri mempunyai arti Babi Hutan Liar. Maka pemahaman CELENGAN dapat dimaknai sebagai : Berperilaku atau bertingkah laku seperti Babi Hutan Liar.

Babi Hutan yang sampai saat ini di Jawa disebut dengan Celeng itu sendiri mempunyai karakter sebagai pekerja keras dalam mencari makan. Mereka hidup berkelompok dan mencari makan baik siang maupun malam. Makanannya terdiri dari berbagai umbi-umbian, yang digali dengan menggunakan taringnya yang memanjang. Makanan tersebut kemudian dimakan ditempat dan sebagian dimasukkan mulut (tidak ditelan) dan dibawa pulang kesarangnya untuk dikumpulkan. Itulah alasan hewan ini begitu tahan menghadapi kemarau panjang karena mempunyai persediaan makanan cukup di sarangnya.

Hewan satu marganya adalah Babi Peliharaan, tetapi mempunyai karakter berbeda dengan Celeng. Babi peliharaan dikenal sebagai hewan pemalas, rakus ketika makan dan penurut sepanjang diberi makan. Sedang karakter Celeng adalah liar dan cenderung merdeka (menolak dikendalikan). Tetapi keduanya punya tipikal sebagai hewan RAKUS dan TAMAK, karena dalam urusan makanan mereka tidak pernah kenal kata kenyang.

Perilaku kerja keras ala Celeng ini yang mungkin hendak dijadikan contoh kehidupan oleh pendahulu kita di Majapahit. Agar kita sebagai manusia juga agar ingat untuk menyimpan sebagian harta kita untuk cadangan dan digunakan bila ada kebutuhan mendesak dikemudian hari.

Dalam analogi kehidupan CELENG yang liar hidupnya, selalu merdeka dan tanpa kenal waktu mencari makan (sekuat fisiknya), itu seperti seorang wirawasta atau pedagang yang tidak punya batas mengumpulkan harta semasa tubuhnya masih kuat melakukannya. Sedang BABI PELIHARAAN yang penurut saya analogikan seperti pegawai atau pekerja upahan, yang walaupun selalu lapar dalam urusan duniawi mereka punya keterbatasan pada belas kasih tuan pemeliharanya.

Dalam peluang hidup, CELENG lebih berpeluang hidup tinggi. Sekalipun ketika dihutan bisa saja ketemu hewan pemangsa ataupun pemburu. Tetapi dia bisa saja menghindar ataupun melawan dalam pertarungan ketika mempertahankan hidupnya. Ini lain dengan BABI PELIHARAAN, karena sejak awal sudah diniatkan oleh pemeliharanya bahwa mereka diberi makan agar tubuhnya dapat segemuk mungkin dengan tujuan disembelih guna dimanfaatkan dagingnya.

Penggunaan tempat penyimpan uang logam berbentuk CELENG yang terbuat dari tembikar tersebut akan dipukul dengan benda keras hingga pecah, sehingga si penabung dapat kembali memanfaatkan uang simpanannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Di era modern ini ternyata bukan hanya uang logam yang dimasukkan, bahkan uang kertas pecahan besarpun dimasukkan kedalam CELENGAN. Untuk bentuknya sendiri (penyimpan tabungan) sudah mengalami pengkayaan bentuk, mulai bentuk hewan, manusia hingga para tokoh pewayangan yang terbuat dari berbagai material. Tapi kok ya anehnya semuanya itu tetap saja disebut CELENGAN …

Istimewanya … dibelahan bumi lain dengan peradaban yang berbeda. Tempat penyimpan uang logam itu mempunyai bentuk yang sama : BABI atau CELENG yang disebut dengan PIGGY BANK. Tinggal anda analisa saja dahulu mana peradaban Majapahit dengan peradaban si Piggy Bank tadi.

Lepas dari itu semua, sekarang anda harus paham tentang pentingnya arti MENABUNG. Dan dari uraian saya diatas, anda ini termasuk GOLONGAN CELENG ataukah GOLONGAN BABI PELIHARAAN ??? …

Hasil obrolan ngalor ngidul dengan para leluhur di malam Jumat Legi; Wuku Wukir; Tahun Jimawal; Windu Sangara

JAYA – JAYA – WIJAYANTI
oleh Patsus Deddy Endarto Wilwatikta untuk SESUNGGUHNYA KAMU ITU BABI APA CELENG ???
Gambar oleh patsus Deddy Endarto dan Patsus Dede Sherman

Share.

9 Komentar

  1. bener2 nggak nyangka.
    antara
    celeng-an dan piggy bank.
    kok bisa mirip yak?
    tulisan yang menggugah….
    antara celeng dan babi.
    ckckckck….

  2. tiap malam gak bisa tidur kalo belum baca Serial Hoax Nya patga yg bikin jantung deg degan dan Bangkitnya Rasa cinta tanah air…. terimabkasih para sesepuh ditunggu Rembesanya….merdeka

  3. Semoga Jatidiri Bangsa tetap kukuh selamanya
    bersama 4 anugrah Semesta bagi tanah Nusantara yang wajib dipelihara
    oleh segenap penghuni sorga nusantara

    Peradaban Majapahit sngt istimewa mendahului jaman nya, adanya piggy bank
    membuktikan saat itu peradaban kerajaan ini tlh mengenal adanya sistem finansial yg baik

    smg Goro2 yg mulai nampak ini lekasi disiram yamato..

  4. aaarrrggghhh on

    kemurkaan alam semesta dapat di rubah dg perilaku penghuni alam semesta…dan berhemat utk kemapanan…karakter harus seperti celeng ….pekerja keras , mandiri dan merdeka…trima kasih pencerahannya bung deddy …

  5. Timur_Nusa Kambangan on

    Mari kita jaga Jatidiri Bangsa.
    Celeng_an,
    Mari belajar menjadi pekerja keras tapi jg cerdas…

  6. Luar biasa…,

    Artikel yang komplit, dari politik sosial dan budaya, juga rembesan halusnya….. Mesti dibaca berulang -ulang biar bisa dicerna dengan baik…
    Terimakasih bung Dedi yang tanpa lelah memberikan pencerahan dan tulisan dengan sudut pandang Unik… semoga sehat selalu, terus berkarya dan semangat.

  7. bung [email protected]….saya pernah mendengar istilah jawa-nya..empat kiblah limo pancer…mohon penjelasannya…karena terbatasnya ruang dan waktu membuat diri ini kurang paham akan budaya leluhur…atau diri ini mungkin kebanyakan begadang di warkop teluk songo laut kidul(bercanda)….hehheeeee

Leave A Reply