APLIKASI TEORI TRINITAS CLAUSEWITZ DALAM PERTAHANAN NEGARA DAN MENJAGA KEUTUHAN BANGSA

32

APLIKASI TEORI TRINITAS CLAUSEWITZ DALAM PERTAHANAN NEGARA DAN MENJAGA KEUTUHAN BANGSA

dedenew383

Kudeta Turki pada hari Sabtu (16/07/2016) tengah Malam yang lalu sangat mengejutkan Dunia. Klik Militer dalam tubuh angkatan bersenjata Turki nekad melakukan hal tidak terpuji itu secara dramatis.
Namun kudeta itu dapat digagakan hanya dalam hitungan jam.
Terkesan Kudeta tersebut dipaksakan dan premature karena klik militer itu tidak berkoordinasi dengan kekuatan utama militer Turki dan tokoh tokoh kunci sehingga Erdogan masih memegang kendali penuh negara. Pendek kata, Pemerintahan Erdogan masih memiliki wibawa.

Isyu kudeta ini sangat menarik karena Semua negara memiliki potensi kudeta termasuk Indonesia. Bahkan Amerika seikat yang katanya negeri yang sangat demokratis dalam Film-Film Holywoodnya kerap memunculkan isyu kudeta didalam negerinya seperti Film White House Down, XXX: The Next Level, Film tentang Perang Saudara Amerika dan lain sebagainya. Pendek kata semua negara memiliki isyu kudeta yang laten. Hanya satu yang bisa mencegahnya. Bukan Rakyat yang memuja pemerintah, Negeri yang makmur sentosa atau Militer yang kuat.
Yang bisa mencegah kudeta adalah wibawa Pemerintah. Ya, seperti yang dilakukan oleh Erdogan.

Persoalan wibawa Pemerintah bukan masalah masalah kekuatan semata. Banyak faktor yang menentukan. Salah satu yang coba membedah wibawa Pemerintah adalah Carl Von Clausewitz dengan Teori Trinitarian-nya. Carl Von Clausewitz, seorang ahli strategi militer Prussia menjabarkan grafik teori Trinitarian (Tiga hal yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan). Grafik ini mengukur asal usul kemauan suatu bangsa untuk berkonflik atau berperang. Namun dalam konteks ini kemauan berkonflik itu scope -nya kita perkecil menjadi Kudeta.

Dalam grafik Trinitas Rakyat dan Militer di gambarkan sebagai dua pihak yang saling bertolak belakang dan bersaing (garis X dan Y) namun satu tujuan yaitu kekuasaan. Dan untuk meraih kekuasaan itu sudah bisa kita tebak apa yang pilih mereka, Kudeta. Pemerintah adalah garis yang berada di tengah tengah keduanya (Equilibrium atau penyeimbang). Idealnya pemerintah adalah hasil konsensus keduanya karena jika Pemerintah tidak mendapat legitimasi salah satu dari keduanya maka Pemerintah akan menjadi mandul dan tidak berguna. Namun pada Prakteknya pemerintah akan berat sebelah. Jika Pemerintah condong didominasi oleh militer maka peran Rakyat akan semakin kecil dan hanya menjadi objek kekuasaan militer. Namun apabila Pemerintah cenderung di kuasai oleh Masyarakat maka peran militer hanya akan menjadi faktor minor dan menjadi alat kekuasaannya.

Yang paling Krusial dari Grafik Trinitas adalah faktor pemerintah sebaiknya mampu memainkan perannya sebagai Pendulum yang selalu bergerak dari kiri (Pro Rakyat) dan ke kanan (Pro Militer) secara konstan dan tidak menetap. Kalau Pemerintah memiliki kecenderungan menetap dalam grafik tersebut maka Kudeta tinggal menunggu waktu.
Pasti ada Pihak yang tidak puas atas kecenderungan Pemerintah dan menuntut keadilan. Jadi Pemerintah harus tahu kapan waktunya harus cenderung kekiri dan kapan harus cenderung kekanan.
Timing yang tidak pas akan menyebabkan malapetaka bagi Pemerintah. Dengan itu Pemerintah dapat mengontrol keduanya di saat yang tepat. Pemerintah yang stabil adalah jaminan bagi negara yang ingin maju.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah wibawa Negara itu masih ada? Jujur saja masih namun tipis sekali. Siapa yang saat ini cenderung lebih dominan? Rakyat saat ini lebih dominan.
Dewasa ini Rakyat mudah bergejolak dan diadu domba karena masalah ekonomi yang semakin menghimpit. Perang Sosial Media semakin meramaikan kancah politik negara apalagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah atau Kepala Negara. Berbagai Isyu Rakyat di goreng menimbulkan ketidak percayaan pada Pemerintah . Kondisi bangsa sudah seperti ayam yang mau menetas karena dipanaskan terus menerus oleh mesin penetas!

Belum lagi Pemerintah sedang menghadapi Konflik luar negeri yang tidak kalah gentingnya. Natuna ibarat Bisul yang sudah mau pecah.
Diawali dengan klaim Tiongkok yang memasukan Perairan Natuna sebagai bagian dari Nine Dash Line miliknya kedalam Peta terbaru mereka dengan seenaknya Nelayan Tiongkok masuk ke perairan tersebut. Awalnya Pemerintah kita menganggap sepi pemasukan wilayah ini kedalam peta Tiongkok tersebut karena Pemerintah Tiongkok berjanji untuk tidak mengganggu wilayah Indonsia.
Namun seiring waktu kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan.
Tiongkok beralasan perairan itu adalah Traditional Fishing Zone mereka. Beberapa kali insiden terjadi karena keras kepalanya nelayan Tiongkok itu dimana ternyata pergerakan mereka di bayang bayangi oleh Coast Guard mereka, Dengan kata lain tindakan Nelayan Tiongkok masuk kewilayah kita ini kemungkinan di atur dan di restui oleh pemerintahnya.

dedenew394

Terakhir adalah Insiden KRI Imam Bonjol yang memberikan tembakan peringatan kepada 12 kapal nelayan Tiongkok yang akhirnya membuahkan hasil ditangkapnya satu kapal mereka. Meskipun Tiongkok protes atas penangkapan ini kita tidak bergeming. Sungguh suatu contoh bagus penegakan marwah bangsa. Kita memang tidak pernah mencari musuh. Selalu Pihak lain yang cari gara-gara dengan kita. Kita selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan damai.
Apalagi Reputasi kita sebagai penyumbang Pasukan Perdamaian dan Pusat Pelatihan Pasukan Penjaga Perdamaian ada di negara kita.
Namun makin lama sikap kita ini dianggap Timid (Penakut) .
Terlebih mereka tahu modernisasi Alutsista kita berjalan dengan kecepatan Keong. Pihak lain tahu hal ini disumbang dari sistem politik kita. Mereka mengamati bahwa sistem politik kita kurang mengakomodir sisi pertahanan dan disibukkan oleh masalah dalam negeri.
Terlebih saat ini Tiongkok telah kalah dalam perundingan Arbitrase soal LCS dan tidak mau mengakui hasil arbitrase tersebut. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Dan Kemanakah Militer dalam kondisi ini dan apa posisinya? Militer sedang dalam kondisi status quo. Mereka masih belum bangkit dari stigma Dwi fungsinya sehingga cenderung menarik diri ke Barak.
Jawaban mereka pun selalu ambigu dan kadang sulit untuk tidak dikatakan oportunis. Pemerintah cenderung hati hati dalam memainkan kartu truf Militer agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
Mereka maklum, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Idealnya saat ini Pendulum Pemerintah seharusnya mengayun ke kanan yaitu kepada Militer. Militer dalam posisi cenderung pasrah karena digunduli pasca reformasi. Keadaan aktual menuntut peran Militer lebih besar dalam kehidupan berbangsa. Rakyat masih menaruh kepercayaan Militer mendukungnya. Rakyat yakin dosa militer dimasa lalu akibat oknum dan pemerintahan represif saat itu. Mereka tidak menyalahkan Militer dan terbukti Militer saat ini cukup dekat dengan Rakyat.

Jika Pemerintah memainkan kartu Truf Militer saat ini niscaya efeknya akan multiplier. Pemerintah akan mendapat legitimasi dari Rakyat dan Militer serta Negara juga lebih stabil karena semua berjalan sebagaimana mestinya sehingga Pemerintah dapat menjalankan programnya dengan tenang tanpa khawatir digulingkan. Militer merasa dipehatikan dan dipercaya oleh Rakyat sehingga lebih loyal kepada Pemerintah. Rakyat juga merasa aman dilindungi oleh Militer.
Pihak luar juga merasa ragu untuk mengganggu Negara karena tiga sistem tersebut saling solid menghormati kepentingannya masing masing dan diakui sebagai mitra bukan saingan. Jika ketiga sistem tersebut solid bersatu maka akan menjadi masalah besar bagi pengganggu.

Namun seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, ini bukan permanen. Pendulum harus selalu mengayun dan memang begitu seharusnya.
Jika diibaratkan negara adalah sebuah Mobil maka Pemerintah adalah Pengemudi dan ia harus selalu tahu kapan harus mengoper persneling, Menginjak Gas, Memberikan lampu sein dan menginjak pedal Rem. Jangan terlena karena apabila Pedal gas selalu di injak maka Mobil akan berlari tak terkendali dan apabila selalu menginjak rem maka mobil tidak akan kemana-mana. Jika Seorang pengemudi lemah maka ia akan dimakan sistem alat yang sedang dijalankannya.

Pemerintah adalah Teras suatu negara dan apa yang dilihat pertama kali oleh pihak luar dari Pemerintah adalah cerminan dari kondisi seluruh negara. Jika Pemerintah lemah dan tidak memiliki legitimasi maka Pihak luar yang berminat dengan negara akan memanfaatkan situasi untuk memperkeruh keadaan dan mengambil keuntungan.
Bisa saja mereka mempengaruhi Rakyat atau malah mempengaruhi yang terkuat dan berbahaya yaitu Militer. Sudah kita maklumi bahwa banyak sekali yang berminat dengan negara kita dan mereka berusaha masuk dari semua sendi kehidupan bernegara kita. Dan tanda tanda itu semakin keras terlihat dari mulai bermunculannya kembali para teroris dan pengacau keamanan yang sempat hilang pasca reformasi,
Paham komunis yang timbul tanpa malu malu dan takut lagi,
Paham dan aliran Fundamentalis hingga maraknya peredaran narkoba yang diselundupkan dari luar.
Hal hal itu muncul karena kondisi dan bukan tidak mungkin merupakan permainan dari luar. Jika Pemerintah, Rakyat dan Militer kita tidak segera bersinergi dan menyatukan presepsi maka tunggulah saat terbakarnya Republik ini.

citoxnew215

oleh Patsus Wehrmacht biro Lampung
Gambar oleh Google Patsus Citox dan patsus Dede Sherman

Share.

32 Komentar

  1. Terima kasih bung Wehrmacht atas kuliah teori Carl Von Clausewitz nya. Jadi tambah ilmu nih aye…., Oya apakah pemerintah kita sudah siapkan anti dot nya utk para negara musang dan samiri bung yg selalu rakus dgn Negara kaya SDA ini ?

    • Saya gak begitu yakin Bung Gunung Jati…manajemen atas kita masih dikelilingi katak katak yang hendak jadi lembu…☺

  2. Ulasan yang cukup menarik bung wehrmacht., Saya ingin bertanya bung, Apa sih yang mendasari pemerintah kita untuk tidak tampil menonjolkan alutsistanya. Bukankah kita sudah bbrpa kali berganti pemerintahan tapi kenapa dalam hal alutsista sllu saja sama untuk merahasiakannya dari publik. Padahal alutsista yg di rahasiakan sepertinya alat yg biasa saja dan tidak terlalu istimewa bagi negara lain. Terima kasih bung,

    • Bakulo Wajaro on

      Hehehehehe… Numpang ngepot bung Shabhenie..sehat selalu bung..mohon ijin bung Wher..Jika saya selalu menjadi incaran musuh dan kawanannya, ada 2 yg bisa saya lakukan bung Shabhenie.. Menunjukan otot dan senjata pamungkas yg saya miliki dgn resiko terukur semua kekuatan saya dan itu sdh bisa dilihat thn 60an jaman bung Karno, dititik lemah kita mereka memukul dan menikam kita .. atau saya menyembunyikannya sbg efek deterent krn musuh tak bisa meraba seberapa besar otot dan senjata yg saya miliki namun bisa sesekali menusuk dan menginjak musuh yg mencoba berbuat jahat tanpa kawanannya menyadari..hehehehehhee…
      Sbg poros dunia ketiga dan pencetus GNB kitalah penghalang terbesar mereka setelah ambruknya blok timur.. Yugoslavia telah hancur tercerai berai.mesir terkulai lemah dihadapan isrohell dan asu..india terjepit hegemoni cino dan barat..dan sasaran terbesar mereka saat ini yg blm bisa dihancurkan hanyalah indonesia…
      Singa dan ausit yg ditugaskan menjepit ekonomi dan politik serta hankam indonesia belum berhasil secara signifikan melumpuhkan kekuatan kita..walau fir msh dikuasai dan timles berhasil mereka merdekakan namun mereka gagal menguasai secara politik timles stelah dilepaskan indonesia..
      Alih2 mereka menguasai indonesia, berangsur2 justru mereka terancam dengan kekuatan kecil yg dimiliki nyata ada dan kekuatan tak tampak yg efeknya dirasa menakutkan..
      apa mereka percaya tahayul..?hehehehe
      Dibilang ada tp tak tampak wujudnya.. Dibilang tiada namun efek jera selalui menghantui..
      Adios amigos#edisi silet bung trahlor pun menakutkan..

        • Bakulo Wajaro on

          Hehehhehe…sama2 bung Shabhenie.. Kadang kita hrs sabar dalam mencermati kondisi terkini.. Bukankah kita bisa belajar dalam strategi kerajaan nusantara dulu dalam menghancurkan khubilaikhan dan pasukan mongolnya..? Pasukan yg kuat tanpa tanding dan menguasai seluruh daratan asia namun hancur lebur di tanah keramat ini..? Masuk dalam jebakan betmen dari para ksatria nusantara dan berakhir dgn terpenggalnya kepala sang pimpinan yg kemudian disusul runtuhnya kekaisaran tsb..?hehehehheehe..
          Adios amigos#edisi taktik dan strategi msh sgt relevan berulang di jaman ini..

          • benarkah itu bung BW.? jemghis khan dipenggal oleh orang kita? krn saya tahunya cuma sampai bagian pasukan mongol kalah oleh raden Wijaya, tidak ada saya temui kisah tentang jenghis khan dipenggal

          • Bakulo Wajaro on

            Hehehehe… Mencoba menggali sejarah kembali bung Tapol..mudah2an ga kena strap lagi reply pertanyaan anda bung..xixixiixixixi..tengak tengok edisi bakulawan sotoy jd sejarahwan.. gubrakkk..apes nabrak meja kumendan.wkwkkwkwkwk.
            memang dalam literatur sejarah mengenai ekspansi bangsa mongol ke jawa pada abad ke 12 ada beberapa versi yg tulis oleh barat, cina dan beberapa sejarawan kita sendiri..yg pastinya semua itu ditulis sesuai sudut pandang masing2 bangsa dan kepentingan yg mendasarinya..
            Jenghis khan adl kakek dari khubilaikhan..dimana sebelum dia menjadi kaisar , ayahnya mewarisi hampir seluruh daratan asia bahkan telah berhasil mencapai daratan eropa hingga budapest namun ahkirnya ekspansi tsb gagal setelah kematiannya..
            Dari literatur barat disebutkan bahwa bangsa mongol setelah mengalahkan kerajaan daha sbg pewaris singasari dan berhasil diperdaya oleh raden wijaya dgn membunuh 200 tentara mongol yg mengawalnya..dan armada mongol kembali ke negerinya membawa pampasan perang dgn korban 3000 pasukan dari 20-30ribu pasukan yg mendarat di tanah jawa dgn 1000 kapal tsb.
            Namun dari literatur sejarawan kita sendiri saya mendapatkan informasi hancurnya pasukan mongol di pulau jawa hingga tercerai berai dan banyak yg akhirnya terdampar di pulau kalimantan dan berasimilasi dgn suku2 dayak disana dan diantara yg tewas adl salah satu pimpinan pasukan mongol yg menurut beberapa sumber diperkirakan dipimpin lsg oleh kaisarnya sendiri khubilaikhan krn marah besar akibat adanya mutilasi kuping mengchi dan jg melihat besarnya jumlah pasukan yg dikrimkan hingga mencapai 300ribu prajurit..dan pengiriman kepala inilah yg menyebabkan runtuhnya moral dan mental kekaisaran mongol yg akhirnya mulai redup setelah kekalahannya di jawa. Dan memang kenyataannya awal redupnya kekaisaran ini menandai munculnya majapahit sbg kerajaan besar di nusantara yg mampu menjangkau wilayah2 yg dulu dikuasai mongol dan pastinya kekalahan di tanah jawa menggenapi kekalahan ke3 khubilaikhan di dunia, dimana sebelumnya pasukan ini di jazirah arab hrs takluk melawan dinasti mamluk di mesir setelah sebelumnya mampu menaklukan dinasti abssyiah di irak dan ke 2 hancurnya armada pasukan ini ketika menyerang jepang lewat laut oleh bencana badai.
            Mungkin begono bung Tapol..mungkin lho ya..kurang lebihnya bisa ditanyakan sama shakruh khan atau amir khan di bollywood..xixixiixixixi…
            Adios amigos#edisi sejarah yg ditulis barat tak mungkin mengangkat kejayaan leluhur nusantara sesuai kepentingan mereka saat itu..sama spt jalur rempah yg sengaja dihilangkan dari sejarah maritim dunia..

    • Bangsa kita bangsa timur Bung Sha be nie…tidak suka menunjukkan kekerasan…cukup bagi kita pepatah makin berisi makin merunduk…bukann krena alutsista kita kuat…ada sesuatu yg sangat menakutkan musuh kita….itu yg membuat musuh selalu.berusaha mencuci otak kita bahwa kekuatan itu diukur dgn alutsista agar kita tdk dapat memanfaatkan comparative advantage kita itu…saya yakin itu…☺

  3. salam hangat bung whermatch…. berarti pemerintah harus cantik untk memaikan peran sebagai dua kaki di antara militer & Rakyat … maka akan tercipta kewibawaan pemerintah yg di segani…. berarti bukan faktor ketokohan seseorang tapi suatu kerja sama dlam kpemenrintahan itu… mohon pencerahannya bung whermatch …. salam bung

    • Suka tidak suka figur ketokohan di negara kita masih memiliki nilai jual Bung Aarrgh…tp seoring waktu dgn edukasi politik yg makin intens rakyat akan tau dimana posisinya dan apa kedudukanya dlm suatu negara….

      vox populi vox dei…suara rakyat suara Tuhan…

  4. Bung Wehrmacht, kapan2 di babar. Dalam perang apa atau strategi apa yg di pakai clausewitz sehingga terkenal ahli perangnya. Terimakasih sebelumnya.

  5. ini arah doktrin nya bisa kemana2… semoga niat dan tujuan utk membangun wahana berpikir bangsa utk lebih solid, tidak terpecah, dan saling bergandengan dalam mewujudkan kejayaan Nusantara

  6. salam hangat patga,
    ahaha…menarik sekali bung wehrmacht, jika babaran diatas dipahami, ditekuni hingga nampak simpul2nya, mk sy yakin sekali, bangsa ini akan memiliki sistem imun yg kompleks thdp rongrongan tanpa henti dr para musuh2 NKRI. Brgkali banyak yg salah mengira bhw musuh kita adalah mrk yg berbeda, tp sbnarnya pola itu mmberi ide murah meriah para perongrong dg mensamakan segala perbedaan yg nampak kmudian mengirim isu, pandangan, data yg seolah benar, opini picik dan mnggunakan sbg senjata utk menghancurkan persatuan itu dr dalam. Iya, sy mnemukan sdikit kiasan ”bunglon”.
    Btw…
    Negara disangga oleh pilar2 yg trdiri dari unsur2 pokok. Katakan sj yg nampak adlh 4 yg mudah terekam dan trcatat ,
    pemerintahnya, rakyatnya, tentara dan medianya.
    “Satu hilang tiga mati, tiga mati hilanglah semuanya. ” atau….
    “Satu tumbuh, tiga utuh….tiga tumbuh,satukanlah utk menggenapi pilarnya ke empatnya.”
    alangkah sederhana teorinya, tp sungguh dibutuhkan berlembar-lembar tulisan utk mngidealkan sbuah DIKTAT baku sbg pedoman pd setiap pemerintahan yg ingin menerapkan isme negaranya.
    Dan tentu, pd setiap pilar berjejal pula maktub, maqam, mindset, patron, pakem, logika, lazim, khas dan sterusnya. Dan lagi, kmudian lagi hingga seterusnya kembali lg pada causa primanya.
    Sy setuju dg pndapat usang, kegagalan brpeluang besar ktika kita enggan mnyamakan perbedaan mnjd satu persepsi saling mengikat dan membutuhkan, kritik kita adalh bagian dari pengukuhan sbuah kesahihan kebijakan. Ya, legitimasi, bukan corsa. Sbb ini berbeda pd pakemnya.
    Hehe….baru sdikit ini bung wehr yg ingin sy tautkan pd pikiran Von setelahnya. Dg bgitu mgk sy bisa kluar dari analisa yg umum, hehe….apa sy berbeda ya ??
    Atau jstru kluar topik jadinya, maklum, setua ini kdg sajian drama sulu mski narasi sdh sy hafali kdg msh bikin grogi…wallahua’lam….hehe.
    JAYALAH INDONESIA !!

    • Salam hangat juga Bung Trahlor, Bung Wehr dand para patga lainnya.
      ane sepaham dgn buh trhalor dalam hal ini, secara umum hanya ada 2 pillar penopang negara. secara de facto adalah militer – rakyat, secara de jure adalah pemerintah – rakyat.
      media adalah instrument ukur dari rakyat, sperti halnya intelejen dalam militer. jika media atau intelejen pembacaannya kacau maka harus dikalibrasi. jika tidak bisa dikalibrasi, diperbaiki atau diganti, jangan dipertahankan kalo sering rusak karena bisa mengacaukan sistemnya. agar rakyat tidak kacau balau, maka dari itu media harus punya standard dan kode etik yang jelas dan tegas, seperti halnya intelejen.
      rakyat sudah heterogen,sudah banyak perbedaan. namun jangan memperbanyak perbedaan lagi. kalo bisa masing perbedaan diambil titik harmonisnya dijadikan satu pandangan, bukan memperbanyak perbedaan baru lagi sperti paham pxxxxxisme yang dapat mengacaukan persatuan dan kesatuan rakyat dan negara. kalo ane tela’ah ketika oknum berusaha memperbanyak perbedaan dalam suatu konflik dikarenakan mereka ada kepentingan untuk memecah belah dan membuat kekacauan.
      jika tiga pilar negara yaitu pemerintah-militer-rakyat keharmonisan terjaga, maka negara bisa berjalan secara utuh.

    • Saya mau panggil bung T
      Saya kok ngerasa nggak sopan ya..

      Saya panggil Pak T boleh khan pak trahlor?
      Saya setuju dengan comandan T..
      Yg mengokohkan suatu negara ada 4 pilar, pemerintahannya, rakyatnya, militernya dan media..
      Untuk bangsa kita saat ini.
      Kalau boleh jujur, rakyat kita nggak ada pemerintah juga bisa survive.. mental mereka baja..
      Mau nyinyir kayak apa ke pemerintah, kalau masalah negara diusik, wes talah.. rawe-rawe rantas malang-malang putung..
      Nggolek kerjo nggo mangan susah di ajak gelut… yo gelut ae weess..
      Militer, saya rasa militer kita cukup terlatih, kalau alutsista mungkin kalah tapi mental insya alloh kita masih bisa.
      Clausewitz juga bicara perang bukan hanya masalah kekuatan fisik tapi mental dan moral, dia juga bicara strategi bukan hal yang pasif tetapi selalu mengikuti perubahan yg terjadi..
      Dan satu ucapan dia yg sudah terbuktidan dipakai pejuang kita..
      “Strategi adalah menentukan musuh dan perang yg mana yg kita pilih, taktik adalah bagaimana memenangkan perang pilihan itu”
      Kita nggak mungkin perang terbuka, musuh tidak menguasai medan.. gerilya jawabannya..
      Itu orang militer lebih paham…
      Pemerintah,.. saya “bingung” untuk pilar yg ini
      Media, di indonesia sepertinya sudah sangat2 kebablasan dan terlalu vulgar, .. mereka seperti tidak punya rem untuk memilah dampak suatu terhadap kepentingan bangsa..
      Hanya karena “kebebasan pers” mereka merasa boleh memberitakan semua melalui sudut pandang mereka yg belum tentu itu baik untuk negara ini..
      Mereka seperti tidak mengenal kata “cukup” ..
      Ada sebuah penelitian mengenai media ketika itu disebuah pulau dipasifik tidak pernah ada berita kasus bunuh diri, ada suatu kasus bunuh diri anak muda karena masalah cinta,.. diblow up, latar belakangnya dsb sangat menjual sebagai berita seperti romeo dimasa modern..
      Setelah berita tersebar kasus bunuh diri meningkat draktis, korbannya anak muda dengan kasus yg bermacam2, ada yg berhasil selamat ketika ditanya kenapa dia menjawab “ingin tahu”..
      Seingat saya kasus mutilasi di indonesia dulu.. tidak pernah terdengar,..
      Ketika berita makin gencar “yang dipotong bagian ini, dipotong jadi sekian potong dsb”..
      Kita sudah semakin biasa mendengar berita orang dimutilasi saat ini..
      Setiap hari kita dicekokin sinetron cengeng, yg nggak gentle, yg terlalu sinis dan matrealistis.
      Itu sinetron negeri lain, bukan cerita untuk orang indonesia,..
      Kita biasa putus nyambung pacaran, nggak pakai dendam2..
      Saya masih ingat peraturan sekolah saya “jika ada masalah sampai harus berkelahi, peraturan berkelahi : tangan kosong, seluruh teman 1 kelasnya harus menjadi saksi, dilakukan dilingkungan sekolah, perkelahian selesai masalah selesai tidak boleh dibawa keluar”
      Tetangga2 saya juga nggak matre kayak di tv2 itu..
      Terus saya ini bahas apa sebenarnya…
      Saat ini, yg paling mendesak,.. perbaiki media..
      Didik bangsa ini dengan benar..

      Maaf ngelantur..
      Maklum Kebanyakan nyari rumput buat makan kambing..

    • Bung Trahlor dan Bung Pakubumi….Media tidak akan pernah jadi Pilar yang keempat karena dia akan selalu berpihak pada ketiga pilar lainnya…Media sudah kehilangan idealismenya untuk tidak berpihak…dia akan selalu menjadi bagian dari kepentingan tiga pilar lainnya…maka Media memiliki peran tersendiri dalam ruang lingkup ketiga pilar…sebagai Katalisatorpaham ketiganya…

      Bung TTTT…pluralisme saat ini bukan sesuatu yg unik lagi…globalisasi telah membuat pluralisme menjadi barang murahan…didagangkan dimana mana tanpa makna lagi…munhkin salah satu cara adalah kembali ke resep kuno…

      Ein Volk,Ein Reich,Ein Fuhrer…satu bangsa,satu negara,satu pemimpin…☺

  7. Kalo menurut saya tiga pilar pemerintah-rakyat-militer dimodelkan seperti segitiga sama sisi yang masing2 sudutnya 60°. Jadi walaupun segitiga tersebut digelindingkan hasilnya tetap, segitiganya masih berdiri tegak karena mempunyai sudut yang sama. Itulah kesetimbangan. Lain halnya kalo dimodelkan segitiga sama sisi yang ketika digelindingkan tidak lagi menghasilkan bangunan segiitiga yang sama.

    • hehehe….segitiga ya…?

      hehehe…ntar masuk jebakan dong.
      kan itu symbol pyramide…di uang 1 dollar ada tuh lambangngya. jadi dah ntar kita menjadi anggota illuminati.

      arab saudi tuh banyak simbol2 di kementrian2nya dan kepolisian…..lihat bagaimana bengisnya dia terhadap ngerei arab lainya…(suriah, irak,yaman, libya).

      apa mau kita seperti itu? …itu akan bertentangan dg pancasila….yang berlandas pada “kemanusiaan yang beradab”

  8. Keangkuhan sebagai Bangsa Indonesia harus di gulirkan lgi..
    Skrg, pendulum brnma Pemerintah tk hny di pusingkn dr luar, dr dlm upaya penyusupan tgn2 jahat trus berlangsung

    Keseimbangan hakikatnya adalah nirvana kehiduoab yang wajib direngkuh, menggapainy perlu perjuangan..

    Perjuangan melawan pihak yg tk mengingkan keseimbangan terjadi dan terus ada hingga akhir semesta

    Tetap berdoa agar Bangsa dan Negeri ini selalu dlm lindungan NYA

    Aminn

    Jayalah NKRI

  9. ini udah sospol, kagak paham ane..
    tapi karna artikel ente wehr, ane paham pahamin dah biar kata ngawur..

    soal kudeta..bukan kagak mungkin, tapi ntu sulit terjadi di indonesia..

    soal lcs..kek komen yg dulu, ane masih berharap china akan ngalah..ntah ngalah dipaksa, ntah kagak..

    soal hubungan antara militer rakyat pemerintah indonesia..mereka baik2 aja kok..

    yg jadi masalah ntu rakyatnya nuntut macem2 tapi pemerintahnya memble gegara rakyatnya juga memble yg akhirnya berefek militernya memble..
    kita sama2 memble lah..

    gitu aja wehr, ntah nyambung ntah kagak..

    • iya ndan kem
      gimana kabar?
      membangun jiwa bangsa Indonesia dengan Pancasila memang harus dilakukan agar trinitas menemukan ritme dan melodi yg tepat

    • Ndankem…mungkin salah satu kata kata Napoleon ada benarnya: Memang mencapai salah satu sesuatu itu sulit…tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini…☺

  10. Assalamu’alaikum
    Ulasan yang bagus bung werhmacht.
    Yang saya pahami adalah semua bisa berkarier untuk menjadi pimpinan utama, asalkan mau meninggalkan status yang lama, yang rakyat mau meninggalkan status sipilnya dan tidak bertindak sembrono ala pemikiran rakyat, yang militer mau meninggalkan status militernya dan tidak berwatak keras namun tegas.
    Tadi yang ibarat sebuah mobil, jangan lupa isi bahan bakarnya. Bahan bakar ibarat sebuah logistik dan tempat pengisian bahan bakar adalah poin perjalanan yang harus di tempuh setiap tahapnya. Bahan bakar bisa di ibaratkan sebagai sumber daya nasional.
    Saya juga sedikit menambahkan dari ketiga komponen tersebut harus terikat dengan ilmu penelitian dan pengembangan nasional, sehingga selain stabil di dalam juga stabil di luar.

    Kurang lebihnya saya minta maaf 🙂

Leave A Reply