*Hantu Bergerak menjadi Nyata*

25

Sejarah PKI Menyerbu Gontor

(Jangan lupakan sejarah kekejaman PKI)
Berhentilah Puji PKI! Kisah Sadis di Pondok Gontor

citoxnew157

 

Sebaiknya berhenti memuji PKI. Bahwa benturan ideologi (umat Islam khususnya) dengan komunis, ini tidak lepas dari kebiadaban PKI sendiri. Lihatlah bagaimana sadisnya tokoh-tokoh PKI membantai umat Islam.

Ustad Anwar Ihsanuddin (nglemu.id) mengunggah kembali aksi penyerangan sadis PKI. Kalimatnya sangat provokatif. “Pondok Bobrok, langgar bubar, santri mati,” inilah yel-yel penuh kebencian yang diteriakkan PKI Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).

Melalui slogan itu, penyerangan sadis PKI dilakukan dengan merusak bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan dan santri dibantai diluar batas kemanusiaan. Lebih ngeri lagi, sebelum slogan itu dikumandangkan di berbagai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kiai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kyai dan santri disembelih secara masal. (Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016, Ayat-ayat yang disembelih, Jakarta: Jagat Publising. Hal. 109)

September 1948, Muso telah menguasai daerah karesidenan Madiun, meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi. Penyerangan Sadis PKI juga mengarah ke Pondok Modern Darussalam yang berada di Gontor Ponorogo juga tidak lepas dari ancaman PKI.

kh-sahal gontor

Pilihan Hijrah atau Lawan PKI

Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi berembug sangat serius dengan santri senior. Setelah lama berembug, akhirnya ditetapkan bahwa melawan PKI yang lengkap dengan senjata sangatlah tidak mungkin. Bisa-bisa banyak santri menjadi korban dari kesadisan PKI. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Kabar yang mendebarkan itu akhirnya sampai juga. Partai Komunis Indonesia sudah mencapai Jabung (barat Gontor) . Tinggal menunggu jam saja maka mereka akan tiba di Gontor. KH Imam Zarkasyi dan KH Ahmad Sahal di bantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto tengah berembug.

Bagaimana cara menyelamatkan para santri dan Pondok. Beliau tidak peduli nasib mereka sendiri, yang beliau-beliau fikirkan nasib para santri. Bagaimana agar mereka selamat, diungsikan kemana, bagaimana setelah itu…Terjadilah percakapan dibawah ini (seperti yang diceritakan Budhe saya) :

“Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dkenali PKI aku iki.)
(Sudah Pak Sahal, antum saja yang berangkat mengungsi dengan para santri.Yang diketahui Kyai Gontor itu ya antum. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini.)” Kata KH Imam Zarkasyi

Kemudian Pak Sahal menjawab :

“Ora..dudu aku sing kudu ngungsi..Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi..Ayo pak Zar, njajal awak mendahno lek mati…” (Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar (karena KH Imam Zarkasyi adalah adik kandung beliau). Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo pak Zar, mencoba badan, walau sampai mati…”

Kedua Kyai itu berusaha meminta salah satu diantara mereka untuk pergi mengungsi. Sungguh bukan nasib mereka yang difikirkan, tapi nasib para santri. Akhirnya diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri.

Penjagaan pesantren diberikan kepada KH Rahmat Soekarto. Lurah desa Gontor sekaligus Imam sholat Jumat di Gontor. Menuju ke arah timur, ke arah Gua Kusuma (masyarakat lebih mengenalnya dengan Gua Sahal). Jarak yang harus ditempuh beliau berdua dengan para santri bukan terbilang dekat, dengan kondisi jalan yang jauh dari dibilang bagus saat itu. Tapi semangat beliau berdua memang luar biasa

Penjagaan pesantren diberikan kepada KH Rahmat Soekarto. Lurah Gontor sekaligus Imam Jumatan di Gontor. Belum sampai melakukan pengungsian, ternyata Pesantren Gontor sudah disambangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga Pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika meninggalkan tempat, akan terjadi bencana besar yang dibuat tentara PKI Muso.

Menerima surat itu, Kiai Sahal dan Kiai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi. Namun, karena ajakan yang cukup kuat dari para santri untuk mengungsi, akhirnya kedua kiai tersebut berangkat mengunsi bersama para santri.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kiai Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta akibat Penyerangan Sadis PKI.

Saat itulah tercetuslah ucapan dari kiai sahal,“Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Gontor Diacak-acak

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pesantren gontor. Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Sejumlah letusan senjata, mewarnai ketegangan situasi itu dibeberapa tempat. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang didalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda putih pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka. Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. “Pertama, kami datang untuk menemui pimpinan pondok. Kedua, kami mohon diizinkan untuk meriksa seluruh isi pondok” sergahnya kasar.

Akhirnya PKI betul-betul datang. Mereka berteriak-teriak mencari Kyai Gontor.

Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kiai Gontor. “Endi kyai-ne?? Endi Kyai-ne?? Kon ngadepi PKI kene..Asu Kabeh…!!”
(Mana Kyainya, Mana Kyainya? Suruh menghadapi PKI sini, Anjing semua..!!)

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri terbuat dari bambu dirusak. Kasur-kasur dibakar, buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sara peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.

kh rahmat soekarto Gontor

Suasana begitu  mencekam, PKI berusaha masuk ke Rumah KH Rahmat Soekarto (Bangunan Pendopo saat ini, sekaligus Rumah Keluarga Pendiri / Trimurti) sambil teriak-teriak tidak jelas.

“Endi lurahe?? Gelem melu PKI po ra?? Lek ra gelem dibeleh sisan neng kene..!!”
(Mana Lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau ndak mau sembelih sekalian disini)

Tapi kuasa Allah, para PKI itu seakan-akan menjumpai dinding kokoh tak terlihat. Mereka saling dorong untuk masuk pendopo yang tanpa dinding itu, KH Rahmat Soekarto terdiam dalam dzikirnya, memohon keselamatan Gontor dan para santrinya. PKI itu semakin beringas, mereka mengcung-acungkan clurit dan cangkul. Tapi tetap tidak bisa menembus barikade “pagar ghaib” yang ada di Pendopo.

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari. Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena sebuan itu. Mereka meninggalkan apa yang mereka bawa dan akhirnya membiarkan Gontor dalam keadaan porak poranda.

Kejahatan, kezaliman PKI itu bukan hanya isu semata. Tetapi fakta sejarah dinegeri ini. Bagaimana dengan kata-kata dan perbuatan mereka membuat berbagai kerusakan. Bahkan mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin di negeri ini. Kita tidak dendam terhadap anak turun PKI, tetapi, generasi bangsa ini harus dipahamkan betapa sadis gerakan komunis.

KH Rahmat Soekarto, Beliau adalah Kakak tertua trimurti, pendiri Pondok Modern Gontor. Beliau adalah lurah seumur hidup Di Gontor.

Jadi Trimurti itu adalah putra ke 5,6 dan 7 dari Kyai Hasan Besari. Putra pertamanya adalah KH Rahmat Soekarto, kemudian 3 orang putri, baru kemudian Trimurti. Ketika KH Hasan Besari wafat, trimurti masih begitu kecil. Sehingga praktis, beliaulah yang membiayai hidup dan bahkan membiayai sekolah Trimurti. Bahkan yang mengkhitankan dan menikahkan TRIMURTI adalah beliau.

Dulu sebelum istilah “Trimurti” berkembang sampai saat ini. Satu istilah lain dikenal oleh para santri Gontor lama, yaitu “Empat Serangkai” pendiri Gontor. Empat serangkai itu ya “trimurti” ditambah KH Rahmat Soekarto ini. Saya sudah berusaha mencari Foto Digital beliau, tapi samapi sekarang saya belum mendapatkannya.

199-PKI-Serang-gontor

Kisah Pengungsiann
laksanakanlah pengungsian ke Trenggalek secara diam-diam. Pada pagi-pagi buta, mulai diperintahkan kepada santri yang hendak turut mengungsi bersama kiai untuk meninggalkan pondok dua-dua atau tiga-tiga. Rute perjalanan telah dipersiapkan sebelumnya. Ada sekitar 70 santri yang ikut mengungsi waktu itu. Dengan memakai pakaian rakyat biasa, agar tidak mudah dikenal orang, K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal meninggalkan pondok pada giliran paling akhir di belakang para santri.

Santri yang masih di pondok ada sekitar 150 orang, termasuk Shoiman yang diserahi tugas untuk menjaga pondok. Selain itu, satu-satunya sesepuh yang masih tinggal di pondok adalah Bapak Rahmat Soekarto, kakak tertua K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi, yang juga Lurah Desa Gontor waktu itu.

Dalam pengungsian ke Trenggalek melewati jalur utara ini, orang memang harus berjalan dari kampung ke kampung melewati jalan setapak, sebelum akhirnya melewati wilayah pegunungan. Saat itu, perbekalan yang dibawa santri hanya sejumlah uang yang tidak terlalu banyak, meski sepanjang perjalanan mereka juga hampir tidak pernah menjumpai warung. Perjalanan akhirnya harus menaiki bukit dan menuruni jurang melewati Gunung Bayangkaki. Setelah itu, baru mereka menjumpai warung. Kelompok yang berada di depan sedikit beruntung karena dapat membeli makanan dan minuman yang ada di warung. Tapi, kelompok yang datang belakangan, termasuk K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal, hanya bisa gigit jari karena yang mereka jumpai tinggal kendi-kendi kosong dan beberapa kulit pisang atau kulit ubi yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Matahari mulai condong ke barat. Perjalanan yang harus ditempuh pun bertambah sukar, di samping badan mulai letih dan rasa haus yang tak tertahankan. Tapi, perjalanan tidak bisa berhenti, sampai akhirnya K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tiba di puncak pegunungan Soko. Di sini K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal sejenak sempat menikmati indahnya pemandangan alam. Kedua kakak beradik ini lalu menatap ke timur dan dilihatnya Gunung Wilis yang berdiri megah. Dari sebelah utara mereka menyaksikan dataran wilayah Madiun dan Ponorogo dengan latar belakang Gunung Lawu-nya. Di arah barat samar-samar terlihat kampung Gontor berada.

Selama mereka melewati pegunungan Soko sampai masuk Desa Ngadirejo, suasana terlihat aman-aman saja. Namun, secara tidak diduga, ketika mereka mulai tiba di Dukuh Gurik, tiba-tiba K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan dikejutkan oleh suara kentongan yang disertai hiruk-pikuk santri yang berada di depan. Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal yang masih berada di belakang bergegas menuju ke depan ke tempat asal suara. Apa yang mereka lihat? Segerombolan orang bersenjatakan golok, tombak, bambu runcing, dan sabit ternyata telah mengepung mereka. Melihat sikap dan gerak-gerik mereka, ada firasat tidak baik yang terdetik dalam hati K.H. Imam Zarkasyi dan rombongan tentang gerombolan yang sedang berada di hadapan mereka ini.

Dugaan mereka tidak salah. Gerombolan yang kebanyakan dari kalangan warokan (para jagoan Ponorogo-red) ini ternyata bagian dari gerombolan PKI. Dengan nada kasar dan bengis, mereka lalu menginterogasi anak-anak Gontor.

Sempat terjadi ketegangan saat itu antara para santri dan pemberontak, malah hampir-hampir terjadi tindak kekerasan. Mereka agaknya ingin memastikan bahwa rombongan santri tersebut adalah anggota tentara Hizbullah. Ini karena mereka tahu, pada 9 September 1948 di Gontor telah diadakan rapat Masyumi untuk wilayah Ponorogo. Mereka menduga kuat Pondok Modern Gontor telah terlibat dalam kegiatan politik, atau mungkin telah dijadikan markas tentara.

Dalam suasana demikian, K.H. Ahmad Sahal sebagai yang tertua di antara anggota rombongan secara tekun meyakinkan pemberontak bahwa rombongan santri ini bukanlah tentara, melainkan murni pelajar. Dari perbincangan yang kadang mengundang ketegangan itu, akhirnya sedikit demi sedikit kaum pemberontak mulai melunak.

“Baik, sementara ini Bapak tidak kami apa-apakan. Tapi Bapak tetap kami tahan menunggu proses lebih lanjut. Pondok Gontor akan kami geledah. Sekiranya keterangan Bapak tadi bertentangan dengan kenyataan yang ada di pondok, akibatnya akan Bapak rasakan sendiri.” Demikian ancaman dari pemimpin pemberontak itu. Untuk menghindari ketegangan, K.H. Ahmad Sahal menyanggupi semua maksud pemimpin pemberontak tadi.

Suatu keberuntungan waktu itu adalah bahwa sejauh itu tampaknya belum ada di antara pemberontak yang tahu secara persis sosok K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi. Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa kedua kiai tersebut sedang berada di antara rombongan.

Sebagai tindak lanjut dari penangkapan ini, pemberontak kemudian menggiring rombongan ini ke sebuah kamar tahanan di Dukuh Buyut yang masih terletak di Desa Ngadirejo. Kiai Imam Zarkasyi dan rombongan ditahan di Dukuh Buyut selama semalam. Esoknya, mereka dipindah ke Dukuh Ploso. Esoknya lagi, mereka dipindah ke Kecamatan Soko. Di sini mereka ditahan selama dua malam, sebelum akhirnya dibawa ke Ponorogo.

Selama ditahan, pakaian mereka dilucuti. Tinggal lembaran pakaian dalam saja yang masih menempel di badan. Makanan yang diberikan hanya ketela rebus. Suasananya serba tidak pasti. Tidak ada keceriaan meliputi hati anggota rombongan. Semua prihatin. Selama ditahan para santri disarankan, baik oleh K.H. Imam Zarkasyi maupun K.H. Ahmad Sahal, agar selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah karena mereka masih belum tahu nasib apa yang akan menimpa mereka esok hari.

Dalam suasana ketidakpastian itu, terjadi semacam perdebatan kecil antara K.H. Ahmad Sahal dan adiknya, K.H. Imam Zarkasyi. Apa yang mereka perdebatkan adalah siapa di antara mereka yang harus mati jika terpaksa situasi menghendaki pengakuan salah seorang di antara mereka sebagai Kiai Gontor.

Tersusunlah sebuah skenario yang siap dijalankan jika PKI memaksa mereka harus menunjukkan sang kiai. Walaupun skenario telah dipersiapkan, akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang harus mati. Kalau sekadar penganiayaan barangkali ada, terutama kepada Ghozali Anwar dan Imam Badri yang disiksa di kamar tahanan Sooko saat diinterogasi secara khusus oleh pemberontak. Mereka diduga kuat sebagai tentara karena fisik mereka tegap. Bahkan, Ghozali Anwar sebenarnya adalah seorang komandan Hizbullah di Ponorogo.

Kiai Imam Zarkasyi dan santri-santrinya yang lain kemudian dipindahkan ke kamar tahanan Sooko, menyusul Ghozali Anwar dan Imam Badri yang telah dipindahkan kemarin sorenya. Ketika bertemu kawan-kawannya, kedua santri tersebut kelihatan memar karena pukulan. Mereka berdua memang sempat dipukuli hingga pingsan karena tidak mau mengaku sebagai tentara. Malam itu, semua anggota rombongan dimasukkan ke dalam kamar tahanan berukuran 4 x 4 meter persegi. Bisa dibayangkan, bagaimana kamar sekecil ini harus dihuni oleh 70 orang.

Esok harinya, rombongan dibawa ke Pulung, lalu dengan berjalan kaki digiring ke Kota Ponorogo. Di Ponorogo, mula-mula mereka ditempatkan di Panti Yugo, rumah besar di sebelah selatan alun-alun yang pernah dijadikan markas Kodim tahun 1960-an. Dari situ kemudian mereka dipindahkan ke Masjid Muhammadiyah. Saat itu ada dua kriteria tahanan. Pertama, tahanan berat yang dikumpulkan di rumah penjara. Umumnya bisa dipastikan mereka akan dibunuh. Kedua, tahanan ringan yang dikumpulkan di Masjid Muhammadiyah Ponorogo.

Di Masjid Muhammadiyah ini, tempat tahanan golongan kedua, juga dipasangi bom yang siap diledakkan. Untung, saat itu reaksi pemerintah RI cepat dan tepat. Tanggal 22 September 1948, Kabinet Hatta telah mengerahkan TNI di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto yang memberi komando penumpasan antek-antek PKI dari Solo. Hari-hari itu tentara Siliwangi sudah mulai bergerak di wilayah Madiun. Kaum pemberontak pun mencoba melawan. Tapi, belum sempat memberikan perlawanan, mereka sudah kocar-kacir.

Di Ponorogo, di bawah pimpinan Abd. Choliq Hasyim (putra K.H. Hasyim Asy‘ari), tentara berhasil memadamkan aksi pemberontak, termasuk menyelamatkan para tawanan. Secara keseluruhan, dalam tempo kurang dari seminggu, aksi pemberontakan PKI di wilayah Madiun dan sekitarnya sudah dapat dipadamkan. Pimpinannya, Muso ditembak mati, sedangkan Amir Syarifuddin ditangkap untuk kemudian juga dijatuhi hukuman mati.

Terkait peristiwa yang mengancam keberlangsungan pondok ini, K.H. Ahmad Sahal pernah berujar sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya, “Nyawa saya ini nyawa lebihan, mestinya saya sudah mati di tangan PKI sejak di Buyut.”

aidit merokok

Sebelum Didor Aidit Minta Rokok ke Eksekutor

Ketua Committee Central Partai Komunis Indonesia Dipa Nusantara Aidit ditangkap di Solo pada 22 November 1965 oleh Tentara Nasional Indonesia. Besoknya, pada 23 November 1965, Aidit dieksekusi mati di Boyolali, Jawa Tengah, kabupaten yang dekat dengan Solo.

Kolonel TNI Ms yang menyergap dan mengakui mengeksekusi Aidit becerita kepada sahabatnya ihwal drama penangkapan tersebut. Sang sahabat itu, menuturkan pengakuan itu kepada Tempo yang menemuinya di rumahnya di Yogyakarta, Sabtu 26 September 2015 lalu.


Setelah ditangkap di balik lemari di rumah milik simpatisan PKI di Solo, Aidit diajak ke ruang depan tempat meja yang masih ada sisa kopi dan puntung rokok. Saat hari nahas itu Aidit sempat menikmati kopi dan rokok di ruang depan, ruangan terbuka seperti umumnya rumah orang Jawa. “Intelijen meyakini posisi Aidit di rumah itu akibat Aidit ceroboh minum kopi di ruang terbuka,” kata Ms, seperti ditirukan sahabatnya.

Menurut Ms, di ruang depan itu juga Aidit sempat diinterogasi, dan menyatakan menyerah pada TNI Angkatan Darat. Aidit menandatangani sejumlah dokumen pernyataan. Kepada sahabatnya, Ms memperlihatkan setidaknya lima foto ketika Aidit baru ditangkap dan diinterogasi. “Rambut Aidit agak panjang dan menutupi dahi di foto itu,” kata sahabat Ms.

 Ms juga bercerita, ketika menginterogasi Aidit, Ms merokok merek Bentoel yang berbungkus kertas warna merah. Setelah Aidit menandatangani surat pernyataan menyerah, Aidit dibawa ke luar dari rumah itu. Saat hendak meninggalkan rumah itu, Aidit menyaksikan masih ada rokok dalam bungkus, yang isinya tinggal separuh.

Aidit berujar ke Ms, “Boleh ya rokok ini saya bawa.” Ms menjawab, “Bawa saja rokok itu, nanti buat rokokan bersama Gatot Subroto.” Tahun 1962, Jenderal TNI Angkatan Darat Gatot Subroto meninggal. “Pernyataan Ms mengisyaratkan Aidit segera dihabisi,” kata kawan Ms.

 

BAGI BANGSA INDONESIA, SEBENARNYA PKI SUDAH SELESAI !
MEREKA SENDIRI YANG MULAI LAGI …!PKI itu bagi bangsa Indonesia khususnya ummat islam sebenarnya sudah selesaiDi dalam masyarakat termasuk di pusat konsentrasi PKI Jawa Tengah dan tempat lain anak-anak PKI tidak pernah lagi mendapatkan kesulitan seperti yang di ceritakan Bejo Untung atau Ilham Aidit itu, mereka hidup normal saja.
Banyak eks tapol PKI dan keluarganya .. bersekolah normal saja bahkan menjadi aktivis masjid, ada bahkan yang bapaknya di ekskusi kemudian Ibunya anggota Gerwani anak-anaknya jadi orang semua, ada yg lulus ITB UGM bahkan jadi PNS yang berpangkat.

Apalagi setelah reformasi, hak hak sosial dan politik mereka sudah pulih semua mereka yang berada di Luar Negeri pun di persilakan pulang dan di beri paspor bahkan ada yang sampai di jemput Yusril IM yang kala itu jadi Munkum Ham.

Arrtinya tidak benar bangsa Indonesia tidak memaafkan mereka atau ummat islam paranoid sama keturunan atau eks tapol PKI, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar.

Menjadi masalah lagi justru karena mereka anyg sudah di pulihkan hak hak  sosial dan hak kewarganegaraanya bikin ulah lagi, mereka menunjukkan eksistensi dan aktivitas aktivitas yang  menyerang lagi, menunjukkan gaya gaya PKI lama, muncul kembali misalnya membalikkan fakta sejarah, mempropagandakan dirinya sebagai korban, membawa masalah yang sudah selesai ke Den Hag, membuka wacana pelurusan sejarah, menuntut pemerintah meminta maaf, minta kompensasi dll.

Nahh sifat sifat dan Gaya gaya  PKI nya nempak eksis kembali Otomatislah Ummat Islam, AD dan Segenap Bangsa Indonesia akan mewaspadainya kembali

PKI hantu dan Nyata*
*Hantu Bergerak menjadi Nyata*
Kalau mengikuti ILC 19 Sepetember 2017 nampaknya kesimpulan bila Ingin terjadi Rekonsiliasi/  Islah syarat kondisinya adalah seperti yang sudah kita diskusikan*Rekonsiliasi harus di mulai dari kejujuran menulis sejarah pada konteks yang tepat : Tulislah terlebih dulu secara jujur pembantaian yg di lakukan PKI pada ummat Islam NU Masyumi dll .. dlm konteks pra dan pasca Pemberontakan PKI Madiun 48, Kenapa PKI harus mengakui dulu, ya karena PKI yang me mulai sejarah kelam ini, bila yg terjadi seperti sekarang PKI tidak mengakui pemberontakan madiun 48 bahkan selalu menyebut2 sebagai provokasi Bung hatta serta tidak pernah mengakui dan meminta maaf terhadap pembunuhan penyembelihan secara biadab terhadap Kyai dan perangkat2 di daerah2, bahkan selalu merasa di jadikan korban baik 48 maupun 65, maka tidak mungkin rekonsiliasi bisa terjadi.**Bila PKI masih merasa dirinya benar sendiri dan terus menerus AD/ Ummat Islam di salahkan, bukan rekonsiliasi yg mereka tuju tapi membalik fakta/ membalik sejarah bahkan mengarah pada balas dendam.* dan keinginan untuk bangkit.

*Soal balas dendam sebenarnya khan sudah pek pok ( Imbang ) sdh saling balas jadi harusnya sudah selesai.*

*PKI memulai dengan membunuh ummat islam dan Jenderal2 AD duluan ( 48 dan 65) lantas di balas >> selesai sudah Pek Pok ( sudah Imbang).*

*Kalau mau terjadi rekonsiliasi, Silahkan PKI mengakui dulu tindakannya dan meminta maaf dan mengatakan bahwa apa yg terjadi pada mereka pasca 65 terbenuhnya banyak kader PKI di kucilkannya mereka dari masyarakat dan sanksi sosial lainnya adalah buah ( hukuman ) dari kelakuannya terdahulu.*

*Mereka harus menerima itu semua sebagai hukuman yang sudah mereka jalani, Oleh karenanya setelah menerima itu semua silakan dengan tulus PKI minta maaf pada Bangsa Indonesia.*
*Maka dengan demikian bangsa Indonesia akan menerima bisa memaafkan*
*Syarat meminta maaf itu harus mengakui kesalahannya bukan menyalahkan*
*Tapi kalau kondisinya seperti sekarang bahasa yang keluar dari PKI itu adalah selalu memposisikan diri sebagai sebagai korban, mau menang sendiri bahkan kemudian malah membuat cerita versi yang berkebalikan dari faktanya … maka kemudian Bangsa Indonesia/ Ummat Islam/ AD di minta rekonsiliasi ya jauh panggang dari api ..!*

Bagaimana kualitas bedjo untung , LBH, Sukmawati dan Ilham Aidit menunjukan keangkuhan , menang sendiri , mau membuat sejarah versi mereka sendiri. Jauh dari kata rekonsiliasi.
Siapa yang berhak menuliskan sejarah ??? Agus Wijoyo, salim said tokoh tengah yang berstatemen dengan bijak.
PKI  salah, membunuh, menbantai dan memberontak sudah terbukti.
Bahkan setelah kejadian G30 S PKI 65 mereka masih melakukan pembunuhan santri2 di Banyuwangi pada 18 Oktober 1965  yang dikenal sebagai pembantaian Cemetuk

Bila mereka bangkit yang diserang adalah ideologi Pancasila
Menyebut sebagai bahaya laten adalah tepat karena ideologi PKI tak pernah mati..
*PKI hantu dan Nyata*
*Hantu Bergerak menjadi Nyata*

hantu atau nyata

Dirangkum dari :
Sumber tulisan Ust. Rahmatullah Oky, cucu dari KH Rahmat Soekarto.
Gontor news: https://www.gontor.ac.id/galeri/syukuri-90-tahun-eksistensi-pondok-tercinta-100-kader-gontor-menapaktilasi-perjuangan-trimurti-pada-pemberontakan-pki-1948
Duta.co https://duta.co/berhentilah-puji-pki-kisah-sadis-di-pondok-gontor/

https://m.tempo.co/read/news/2015/10/02/078706002/eksklusif-g30s-sebelum-didor-aidit-minta-rokok-ke-eksekutor

Gambar oleh Google dan Patsus Citox

Share.

25 Komentar

  1. Muso sbg pimpinan PKI era1948 adalah fakta. Puing rumah tinggalnya pun sekarang masih ada, terletak di Ds. Jagung Kec Pagu Kab Kediri.

    • benar, kita2 siap setiap saat, termasuk menurunkan kembali kumpulan rotan yg tersimpan rapi di plafon suatu surau di pelosok sana. mudah2an keampuhannya masih berguna di sinetron melineal ini. :D

  2. Assalamu Alaikum…
    Selamat Tahun Baru Hijriah 1439 H. Semoga tahun Hijriah ini menjadi salah satu tahun2 terbaik kita, Amin.
    Ular berbisa yang hebat berkamuflase hanya bisa dikenali saat ia beraksi (menangkap mangsa). Beri mereka umpan besar agar semua ular keluar. Lalu potong kepalanya, otomatis badan dan ekornya ikut mati. Anak2 ular yg sama, pada giirannya akan menjadi ular dewasa, sehingga cabut rumput sampai ke akarnya. Beri mereka umpan dalam porsi kecil, lalu potong kepalanya.
    Bagi si ular, umpan besar yg menarik hanya makanan mangsa (kekuasaan/kejayaan). Bagi habitat si mangsa (umpan), mengorbankan salah satu dari mereka adalah lebih baik demi kebebasan dan kesejahteraan mereka semua. Ternyata, eksekutor dari pihak si mangsa mendapatkan 2 burung dengan hanya 1 panah yaitu kesejahteraan dan popularitas. Dan, strategi ini pernah sangat sukses terjadi di negara kita, meski latar belakang dan tujuannya sedikit berbeda.
    Uniknya, ular berbisa itu telah bermutasi sesuai keadaan zaman, sehingga ciri kamuflasenya berubah, umpan kesukaannyapun berubah. Jika dulu umpan kesukaannya adalah military power, maka sekarang umpan kesukaannya adalah people power.

  3. Permintaan maaf seharusnya datang dari PKI kpd bangsa ini bukan malah sebaliknya. Apakah hakim harus meminta maaf kpd seorang terdakwa yg sdh ditahannya atau dieksekusi? Ada aksi pasti ada reaksi. Perbuatan PKI yg memberontak, membunuh, dan membuat bangsa ini terluka ditengah terjangan penjajah belanda thn 1948 dan kondisi ekonomi, keamanan, dan politik yg sdg lemah disaat demokrasi terpimpin rezim orde lama thn 1965 memperparah kehidupan rakyat dan bangsa ini pd waktu itu.

  4. pemburu rajawali on

    Mba sukma itu amnesia sejarah! Karena dia tdk mau tabayyun kpd umat islam jg Angkatan Darat khususnya. Si Mba ini hnya berdasarkan “Katanya” sj dalil pernyataannya. Sdg Anak Aidit itu masih kecil ketika ayahnya menjadi ketua CC PKI jd tau sejarah jg dari “katanya dan cerita dongeng”.

    Apa maksud dari Penampakan Hantu PKI? Karena mrk mau.. Mau mengulang lagi kisah “heroisme Merah” saat 29-5 oktober.. Hanya saja ksatria bawah tanah lbj dlu lakukan serangan preventif.. Silahkan bertaubat kaum Muda Merah sebelum cakar-cakar muda Garuda menusuk jg merobek tubuh mu.

    • Bung PR, apakah ksatria bawah tanah selalu ada regenerasinya? sy salut dg bpk Kivlan, slalu mngabdikan dr nya demi keutuhan NKRI di usianya yg sdh sepuh. Mempunyai argumen dan data yg kuat shg dlm debat2 para penghianat pun pd mental. Apakh seorg purnawirawan msh boleh aktif mngendalikan intel? ato intel independent?

      • maaf bung PR ngotorin lpakny untuk mencoba menjawab [email protected]…hehehe,regenerasi wajib bung hukumny,hnya pesertany orang pilihan trus latihany jga ditempat rahasia nie untk yg biasa jalan2 lho bung…yg udh sepuh biasany sih cuma ngasih saran dan masukan biar yg muda2 yg bergerak tpi klu yg sepuh pengin nglemesin otot bleh jga klu jalan2….hehehe…
        #semga bung PR meluruskan jawaban saya yg ngawur nie,maklum ank baru….xixixi

  5. pemburu rajawali on

    Setahu sy fullback itu punya modul escape utk crew nya. Jd crew sdh di buat senyaman mungkin utk sekelas fullback mungkin ini yg memanjakan crew..hehehe

  6. Di masa depan…RRC ngga di perintah olek komunis traditional. Tapi oleh genk kapitalis raksasa + militer.. Ghost Fleet….

    • Ada stasiun TV hanya memuat tagline pemberontakan G30S. Hanya G30S. Padahal sejak dr zaman Pelita 1, itu selalu G 30 S PKI. Harus ada kata PKI dibelakang G30S..

    • Dan musuh utama mereka adalah kaum monotheis…yang dalam segala hal akan bertentangan pada nilai2 dasar dan tujuan perjuangannya.
      mereka kaum kapitalis raksasa maupun komunis raksasa adalah alat tipu daya trinitas yaitu salib dan segitiga (musuh bebuyutan dan traditional bagi kaum monotheis) …1.5 milyar manusia VS 3,5 milyar manusia.

  7. Maaf para sepuh dalam peristiwa pemberontakan dan pembantaian pki tahun ’48, kenapa yang datang bantuan selalu dayang dari kodam siliwangi yang jauh markas y berada di jabar sampai membutuhkan waktu berhari2 untuk sampai di tempat para kiai yang ditawan , sudah beberapa x kodam siliwangi melakukan pertolongan, terus posisi kodam di poenogoro & kodam brawijaya yang posisi y lebih dekat berada di mana mereka pada saat itu ??? Maaf saya emosi para sepuh patga kok bisa terjadi seperti itu

    • maaf ya ikut nyumbang suara :

      peristiwa pemberontakan tahun 48 ya..? yg aku pernah baca sih… saat itu TKR/BKR (TNI) banyak juga yang dikerahkan ke jatim untuk menumpas pemberontakan. sementara tujuan pemberontakan madiun itu adalah tipu muslihat PKI untuk mengacau perhatian tentara…karena pada waktu yang berdekatan belanda agresi ke yogyakarta yang dalam keadaan vakum (kosong) . di lapter adisucipto hanya dijaga 200 tentara bersenjata ringan.

      pokoknya waktu itu masih banyak sekali para penghianat yang ada didalam tubuh di pihak kita.

      CMIIW

  8. pemburu rajawali on

    Regenerasi pasti ada dan mutlak,jika para sepuh jendral tau byk hal krn dlm pendidikan sesko sdh diajarkan teritorial intelijen jd walau hnya lihat tv/koran Beliau paham apa yg terjadi.

    Bung Me,siliwangi itu ada di jawa tengah-timur dlm posisi hijrah. Sdg kodam2 lain bkn tdk membantu,mrk jg membantu kok..hehehe

  9. salam bung PR … mungkin bisa dijawab atau engga ya ? hehe
    saya selalu ingat pencerahan bung Hadna .. kalau ICBM memang tidak ada .. tetapi yang mirip ICBM nah itu mungkin ada .. hehe .. secara reaktor kan ada tiga tempat ya .. Yogya .. Bandung dan Serpong …
    atau yang sekelas di bawahnya .. kalau asu punya MOAB, rusia punya FOAB, lah kalau kita punya apa bung PR? monggo bung PR kalau ada rembesannya … supaya semakin tinggi bung semangat kita dalam mempertahankan negara ini baik dari ancaman luar maupun dalam negeri ..

  10. Panglima TNI pinter ngasih umpannya… Haha
    Diributin pemutaran film saja pd nongol tuh ikan.. Tinggal kecerdasan kita generasi muda saja melihat siapa pro komunis (blm mau terang terangan mengaku) dan ada dimana mereka…

  11. pemburu rajawali on

    Wah bung kingsoka mancing ny dg umpan gede nih..bisa2 lari munter landasan sy nti. Bom nuklir kita tdk punya tp klo terpaksa hrs pasti ada dan muncul..xixixixi.

    Anak muda memang hrs di pancing emosinya baru logika nya jalan.tp tdk semua anak muda loh!!..

    #Renegoisasi..mantap!!

  12. gw ga bingung sama yg ada di ilc pro pki….yg gw bingung kenapa anak sukarno juga pro pki….maksudnya apa?kan pada saat penumpasan g 30 spki…sukarno berterimakasih pada suharto..menandakan bahwa sukarno tahu suharto ga tau apa2..tapi bertindak pahlawan…(gw pikir tadinya gitu) tapi dengan banyaknya anak pki di pdip dan datangnya sukmawati di ilc sebagai pembela pki…itu mungkin loh(pendapat pribadi)bahwa penculikan jendral atas sepengetahuan bapaknya…..pikirin dah pelan2…mungkin ga sih??para suhu…

Leave A Reply