SUMBER UTAMA PERMASALAHAN DALAM DEMOKRASI

8

SUMBER UTAMA PERMASALAHAN DALAM DEMOKRASI

 

dedenew485

 

Dalam DEMOCRAZY setiap orang berhak menentukan atau mengizikan warga negaranya untuk berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung (melalui perwakilan) seperti DPR dalam perumusan, pengembangan dan pembuatan hukum.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) demokrasi/de·mo·kra·si/ /démokrasi/ n Pol 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Sumber :https://kbbi.web.id/demokrasi

Jadi singkatnya pemerintahan itu dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Mari bedah satu per satu, dari Rakyat Indonesia maksudnya Warga/ Rakyat Indonesia, dan tujuannya jelas untuk Rakyat Indonesia bukan untuk rakyat Amerika atau China, dan oleh rakyat ini dimaksud dalam pengelolaannya oleh Rakyat Indonesia.

dedenew432

“Oleh rakyat” ini dipilihlah yang pantas untuk memimpin dengan cara pemilu (pemilihan umum) dalam pemilu ada asas pemilu yang dikenal dengan LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia). Dengan cara ini pemimpin yang dihasilkan dari Pemilu tidak akan berkompeten, karena pemilu banyak kekurangan misal dari one man one vote,  dan perhitungan pemilihan berdasarkan dari suara terbanyak.

Point utama disini mari kita bedah asas demokrasi LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia), ini terdapat kecacatan, karena rawan akan kecurangan dalam pemilu, makanya sempat viral jika di Indonesia yang pemenang pemilu bisa diketahui sebelum pemilu dilaksanakan, loh ko bisa ya bisa, karena yang mentukan kemenangan bukan pemilih tapi yang menghitung suara pemilih. Karena ada asas Rahasia tadi kita tidak tahu jumlah pemilih sebenarnya, siapa memilih siapa, siapa memilih partai apa? dsb.

Karena itu rawan kecurangan pemilu, jadi pemilu bisa saja hanya formalitas yang mesti dilakukan untuk mengganti tampuk kepemipinan. Jadi kalau saya pribadi tidak peercaya terhadap pemilu, karena mau bagaimana pun yang menentukan bukan pemilih melainkan yang menghitung hasil suara pemilihan. Walaupun bersumpah jujur dan adil, karena ada asas pemilu RAHASIA kita tidak dapat menghitung sendiri, walaupun ada saksi. Karenanya bagi setiap calon untuk mengikuti pemilu itu sangatlah susah karena mau bagaimana pun dia harus bisa menempatkan orang kepercayaannya untuk mengawasi jalannya pemungutan dan perhitugan suara di tiap TPS.

dedenew585

Mari ambil contoh, tidak usah di negara kita, di tempat asal pencetus demokrasi di Amerika saja masih rawan kecurangan apalagi di negara kita! Jadi sudah saatnya kita tinggalkan pemilu dan kembali kepada musyawarah untuk mufakat, dengan cara mencari kebenaran bukan pembenaran melalui perhitungan suara terbanyak.

 

Patsus Salahuddin Biro Jakarata

Share.

8 Komentar

  1. Para pendiri Negeri sudah menyiapkan sistem politik yang terbaik sesuai nilai luhur dan budaya bangsa.. Musyawarah Mufakat
    namun, bukan Dajjal namanya jika hal ini dibiarkan..

  2. Bagaimana kalo pemilu diganti aja dengan pemilus,pemilihan khusus..
    Apapun sistem yang dipakai, JIKA MENTAL,KARAKTER, PELAKSANANYA RUSAK tak akan guna lah.
    Ajarkan fan terapkan pelajaran karakter dengan keras dimulai dari sekolah, semoga bisa

  3. “yang mentukan kemenangan bukan pemilih tapi yang menghitung suara pemilih”…betul, dua mingguan saya fokus mengikuti PEMILU di USA, karena saya yakin akan terjadi sama seperti dinegeri kita, dan ternyata benar!
    Akan tetapi nampaknya Mr. Trump yang sejak awal menjabat digempur habis oleh “media” sudah mempersiapkan segala sesuatunya, LAWAN! dan benar saja momentum itu sedang berbalik!
    Mampu Mr. Trump???
    Bagaimana media-media mainstream di Indonesia, yang kiblatnya media mainstream sana? Sedang sebagian besar rakyat USA saja tidak mempercayainya?!
    Penilaian saya hanya penilain pribadi. Berdasar pengamatan PERILAKU media mainstream, media sosial (pro/kontra). Dilihat dari kedua sisi denga hati-hati maka akan terlihat “who is the good guy and who is the bad guy!”, tentu tidak 100% akurat.
    Apa hikmahnya?
    KEDAULATAN itu tak melulu soal TAPAL BATAS, dan saya yakin Bung-bung disini tahu itu.
    Bagian tersulitnya, bagaimana mengontrol media agar tetap pada jalurnya karena kemampuan media mainstream dalam melakukan propaganda tidak bisa dilawan dengan ALUTSISTA… tapi kerusakan yang ditimbulkan dapat menghancurkan sebuah negara???
    Bukankah jargonnya “Jika ingin menguasai dunia, kuasailah media”.

    Karena, dalam DEMOKRASI itu media adalah senjata utamanya!
    Dan saya masih berharap, pemilu Amerika Serikat akan membawa berkah buat Indonesia. Aamiin….

    • Saya setuju sekali bung. Media adalah sarana yg efektif utk menyebarkan propaganda dan informasi yg diinginkan. Saat ini hampir semua media tv dikuasai oleh pro penguasa dan begitu pula buzzer Rp yang masih dipelihara oleh penguasa walau memakai anggaran negara. Untuk membentuk negara demokrasi harus ada pemisahan yg hakiki atas lembaga kekuasaan, kehakiman, dan pengawasan. Tanpa adanya pemisahan yg kuat maka say good by lah pada demokrasi. Saat ini lembaga kehakiman spt polisi dan kejaksaan masih dibawah pemerintah sdh seharusnya mereka menjadi lembaga terpisah di luar pemerintah. KPK skg sdh setali tiga uang dgn polisi dan kejaksaan bahkan skg sdh menjadi pegawai negeri sipil yg sewaktu2 bisa diberhentikan presiden. MK kini sedang menjadi incaran maka waspadalah MK.

    • Makan coklat memang nikmat… Waktu sudah dekat bisa saja untuk saatnya istirahat.. Ksatria NKRI mengamati sitkon dengan seksama.. Mengamati perebutan kekuatan di istana…

  4. sebuah diagram alir sederhana: input –> prosesing unit –> output
    terlihat 2 kemungkinan yg mempengaruhi output. sebagian orang menyalahkan rendahnya kapasitas prosesor atas kelirunya output. pernyataan tsb memunculkan pertanyaan berikutnya, apakah prosesor dgn kapasitas tinggi tdk bisa menghasilkan kesalahan pada output? jawabannya bisa, dan banyak.
    proses satunya dan yg terpenting adalah iput, pengiputan dilakukan dgn typing dan deleting. penguasa punya banyak kekuatan untuk itu. penginputan dilakukan segera setelah proses format selesai yg berarti dilakukan sejak usia dini. typing penginputan pada usia kanak kanak disekolah yg merupakan cara formal, dan bila diperlukan deleting reducing compating modyfing file yg sudah ada mungkin dilakukan, seperti wacana pada pendidikan agama materi “perang suci” pendidikan pancasila pendidikan sejarah dll.
    sedangkan media adalah pengiputan informal, televisi punya jaringan luas membutukan biaya besar berarti masuk ke bisnis yg berarti untung rugi bukan benar salah. jualannya bad new is good news. jml sedikit, keberadaannya diatur, lagi lagi penguasa bisa berperan. beaya mahal berarti sponsor sasta bisa berperan juga.
    slh satu agenda adalah pemilihan pemimpin, bisa ditebak, mana yg harus ditype mana yg didelete, hiding truth, showing fake. panggung mana yg hrs show panggung mana yg dihide. sumber daya yg ada mereka berusaha mempengaruhi publik sekuat tenaga memasukkan file ke hardisk agar bisa diupload ke ram proses di neokortek, dan menunggu outputnya sesuai harpan mereka.

  5. di islam penginputan adalah dakwah yg berarti menyampaikan yg berarti showing truth, tentu yg sebenar benarnya. islam mengajarkan semua soal kehidupan, termasuk soal pemimpin, dari pemilihan, proses saat memimpin, sampai pergantian pemimpin. semua dilakukan dgn cara terbaik. dari sini terlihat akan ada “pertemuan” antar cara islam dan cara satunya lagi yg hanya memikirkan untung rugi semata.