PINTARNYA ORANG NUSANTARA

10

The Scottish Rite

PINTARNYA ORANG NUSANTARA

 

Suatu hari ada proyek pengerjaan pengecetan ulang gedung putih, Amerika membuka tender, perusahaan dari negara mana pun boleh ikut.

Perusahaan Asal China : Saya mengajukan cost 2,500,000 USD untuk proyek ini.

Prusahaan Asal German : Saya mengajukan cost 4,000,000 USD untuk proyek ini.

Prusahaan Asal Jepang : Saya mengajukan cost 3,000,000 USD untuk proyek ini.

Prusahaan Asal Indonesia : Saya mengajukan cost 7,000,000 USD untuk proyek ini.

 

Singkat cerita Amerika langsung memilih perusahaan dari Indonesia, perusahaan dari negara lain melongo, kenapa Indonesia yang dipilih.

Semua bertanya-tanya, namun Amerika tetap bersikera bahwa perusahaan dari Indonesia lah yang menang tender untuk proyek tersebut.

Ternyata pada saat persentasi prusahaan dari Indonesia sempat berbisik kepada Amerika, udah lah pilih saya aja ya, ntar saya kasih 2,000,000 USD kalau sampeyan pilih saya.

admin80

Setelah terpilih perusahaan dari Indonesia memberikan 2,000,000 USD kepada penanggung jawab tender dari Amerika, dan membayar perusahaan dari China sebesar 2,500,000 USD dan mendaatkan untung dari sisanya.

Benarkan pintarnya orang Indonesia, kira-kira dari cerita diatas kalau boleh berandai-andai siapa yang jadi Amerika, China dan Indonesia diproyek-proyek yang ada di nusantara sekarang ini? Silahkan kmukakan pendapatnya dikolom komentar, tapi inget jangan sampai adu jotos. Jadi sebenarnya kita ini pintar apa bodoh? Mengapa kita mau menerima direct invetment dari China dengan sekema Turn Key Project, lantas rakyat kita dapat apa? Apa cuma penanggung jawab project yang dapat duit?

Memindahkan pabrik, membangun jalan tol, membangun bandara, pelabuhan, bahkan kereta kilat bukan berarti hebat, jika hanya memindahkan uang dan “pengkondisian”. Membangun dengan turn key project tidak lah hebat karena rakyat tidak mendapat apa-apa, ditambah yang dibangun jauh dari nilai ekonomis (kurang menguntungkan dan kurang manfaat), karena tidak melalui musyawarah yang benar. Hanya menguntungkan pemberi dan sebagian kelompok yang diberi wewenang.

Dan sekarang ini tidak seperti jaman dahulu, kebanyakan hanya cari aman dan cari untung untuk diri sendiri, yang punya jabatan, harta, bahkan kuasa hanya mementingakan diri sendiri, yang penting keluarga aman, nyaman dsb, terserah yang lainnya.

Akhir kata, siapkah anda membayar hutang? Ingat anda warga negara, jika negara anda berhutang, hutangnya akan ditagih kepada anda, melalui pajak dan sebagainya. Wait heula Mas Bro, bukankah kita punya usaha milik negara? Hmmm… kira-kira usahanya menghasilkan “revenue” atau “income”, jika hanya “revenue” yang besar tapi tidak ada incomenya, sama aja bohong… xixixixixi…

 

 

Share.

10 Komentar

  1. Nah .. Ikut sumbang versi sendiri,
    Kalo menurut hemat saya mungkin semua memamng sudah direncanakan.. Tetapi di akhir akhir pemilu langsung.. Terkesan frontal.. Pendapat silih beradu.. Sampai jotos jotosan.. Sepertinya seknario settingan.. Entah disengaja atau pengkindisian bisa juga masa bodo.. Plus pandemi… Ajur sudah pendidikan..mundur, moral dan budaya seperti ga ada.. Gambar dan video jadi utama..

  2. Whahaa dari jaman presiden dulu semua pasti di wariskan utang. Pasti di tonjolkan anak cucu yg bayar utang. .. Sampai sekarang..
    Dulu utang gag ada wujudnya.. Tp anak cucu yg bayar.
    Sekarang mendingan ada wujudnya. jln di luar pulau Jawa.. Di bangun.
    Coba kalau yg di berita pembangunan mrt, lrt, tol Jawa Aja .. Apa gag teriiak2 yg di luar Jawa.
    Apa gag heboh berita di TV.. Gag adil kenapa hanya Jawa aja yg di bangun.. Hasil tambang di keruk..
    Sama2 bayar utang tp diluar Jawa ada pembangunan kita Indonesia pasti legowo bayar utang asal ada wujudnya.. Kira2 begitu.
    Salam berbeda pandangan.. ☺✌✌

    • Perbandingan sekarang yg wujud dgn dulu tak berwujud terhadap pdb bagaimana pak? apakah hutang perlu diukur kesanggupan bayar hutangnya? apakah negara2 lain bisa maju karena hutang?

      bagaimana dgn SDM nya pak? kalau pengembangan SDM spt biaya pendidikan tidak berwijud bagaimana? anak cucu kita bisa berkompetisi dg negara maju jika sekarang semua SD standarnya sekelas Al Azhar, atau BPK Penabur, tidak lagi anak diajari ngetik word waktu SMA, sekarang jamannya coding AI, machine learning dari TK, kira2 perlu biaya gak pak?

      kalo investasi masuk biaya itu buat fix cost operasiaonal dan infrastruktur produksi, sekarang pertanyaannya, yang punya bumi siapa pak? kok kekayaannya dikeruk terus dijual, rakyat sekitar cukup jadi buruh saja dah cukup ya pak? kalo export kena pajak gak pak???? yang penting ada wujudnya ya….oke2….insight yg mendalam

    • Tanpa pajak dari badan usaha di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua.. pembangunan di Jawa juga tidak ada… PRRI/Permesta, GAM, juga tidak akan terjadi kalau ada pemerataan pembagian antara pusat dengan daerah.

Leave A Reply