WIDJOJO SOEJONO : BERUBAH ATAU PUNAH

10

WIDJOJO SOEJONO : BERUBAH ATAU PUNAH

FB_IMG_1508161655330

Seorang bapak tua berperawakan kecil bergegas membuka pintu gerbang kediaman. “Ya, dari mana mas ?”, sapanya dengan ramah. Saya jawab : “Pagi, bapak, kami bertiga sudah janji pk 08.00 ini kunjung ke bapak Widjojo Soejono”, jawab Mufti Mubarok yang persis berdiri di depan pintu, kepada penjaga di depan kediaman “bapak”. Setelah dibukakan pintu gerbang dan dipersilakan masuk, kami duduk di lobby depan, sejenak menunggu, sebelum “bapak” keluar menemui kami.

Rumah yang cukup besar, ada taman rindang di halaman depan, plasa yang luas untuk parkir mobil dan dinding-dinding kokoh bercat putih, semua nampak bersih dan tertata rapi. Di lobby itu ada meja dan kursi tamu yang ditempatkan persis di tengah, simetris dengan pernak-pernik yang dipajang serasi. Ada beberapa foto dan lukisan kenangan, seorang Widjojo Soejono di kala muda, remaja.

Sesaat kemudian, dari sisi dalam ruangan induk rumah itu, sang “bapak” yang kami kagumi muncul, membuka pintu sambil tersenyum ramah. “Ayo, kita ngobrol di ruang dalam saja”, ajak beliau dengan merangkul satu persatu kami. Terasa sejuk dan nyaman duduk bersama seorang purnawirawan jenderal TNi-AD, namun bersahaja, santun, rendah hati. Gurat wajahnya menyiratkan cahaya pengalaman hidup yang sudah 89 tahun.

Tak sabar saya, berbasa-basi sebentar, langsung tancap gas dengan pertanyaan seputar keadaan NKRI saat ini. Sambil menarik napas dalam, orang tua yang energik dan sarat pengalaman militer ini, membuka “tausiyah kebangsaan”-nya. “Keadaan negara saat ini sungguh sangat memprihatinkan, maka dengan wawasan KEBUDAYAAN rakyat harus terus berubah, berbenah dan berupaya keras agar situasi kondisi politik serta sosial masyarakat dari hari kehari tetap waspada akan serbuan proxy war”, katanya.

Widjojo Soejono, kakek yang karateka dan hobi tenis lapangan ini – sedang mengawal kejuaraan dunia tenis remaja, diikuti 28 negara ; akan berakhir hari ini, Minggu, 15 Oktober 2017 – masih getol juga mengamati keadaan sosial politik negara. Sebanyak 28 negara telah ambil bagian dalam turnamen Tenis Widjojo Soejono Cup XXXVI – 2017, di Lapangan Tenis Makodam V Brawijaya, Surabaya, 8-15 Oktober 2017. Dari 28 negara itu diantaranya Jepang, India, China, Thailand, Hongkong, Australia, Korea, Pilipina, Singapura, Jerman, Swiss, Amerika Serikat, Oman, China Taipe, Rusia, Malaysia, Kanada, Selandia Baru, Norwegia, Polandia dan tuan rumah Indonesia.

Selanjutnya, menurut Widjojo Soejono yang selalu prima ini, bahwa setiap bangsa dalam suatu negara hanya akan eksis dan lestari (selamanya), bila ia segera meningkatkan kemampuan dengan cara terus-menerus merubah sikap mental (budaya) kelompok bangsanya – agar menjadi warga negara yang baik – sehingga mampu menandingi dan bersaing dengan bangsa negara lain serta hidup sejahtera.

“Cucu saya saja membuat motto bagi dirinya dan ditulis di papan : ‘BERUBAH ATAU PUNAH’, dengan tulisan yang besar”, urainya. Tak hanya berhenti di situ, kakek yang masih nampak kekar ini dengan semangatnya menambahkan. “Kita rasakan betapa kebudayaan asing, terutama Cina, begitu gencar #invasi kebudayaannya ke Indonesia. Belum dengan kekuatan militer saja Cina telah #mengusai Indonesia, nyaris dalam segala bidang, terutama Ekonomi dan Berbagai Budaya (gaya hidup) yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita”.

“Itu artinya, kita yang mengaku orang Indonesia, harusnya mampu survive, mempertahankan diri (kebangsaan) dengan menandingi serangan kebudayaan mereka. Bila tidak, secara alami dan mendasar, kekuatan mereka akan menindas bangsa ini”, lanjut Widjojo dengan kalem namun meyakinkan.

Widjojo Soejono, selaku sesepuh PPAD (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat) – pernah menjabat Pangdam Brawijaya, Danjen Kopasus dan terakhir sebagai Pankopkamtib – ini, mewanti-wanti pesan Prof. Koentjaraningrat kepada kami dan seluruh anak bangsa, agar tidak lengah dan mengubah sikap mental (budaya) : 1). Feodal, 2). Malas, 3). Munafik, dan 4). Suka cari kambing hitam yang menandai ciri wanci sekaligus “kelemahan” suku bangsa Indonesia (saya, Red. Bhoemiputera).

Feodal, contohnya adalah memperlakukan rakyat sebagai budak, sementara para pejabat atau pengusaha (pemilik uang) memosisikan dirinya sebagai #PEMERINTAH atau #PENGUASA.

Malas untuk ber-inovasi, kreasi dan produksi ; cukup puas sebagai konsumen yang membanggakan semua produk budaya asing. Lamban melakukan perubahan, merasa sebagai rakyat yang hidup di negara kaya. Bagaimana kalau ditipu dan kekayaan negara dikuasai suku bangsa asing (Cina atau Amerika) ? ..

Munafik, contohnya, bila menjadi ketua atau pengurus #partai berteriak : KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI, namun nyatanya setelah jadi pejabat (eksekutif), wakil rakyat (legislatif), bahkan hakim, jaksa, polisi (judikatif), malah korupsi besar-besaran, tanpa punya rasa malu.

Suka cari kambing hitam, contohnya, seorang pejabat yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya musibah, peristiwa besar atau kecelakaan, buru-buru bukannya mencari solusi namun segera saja menyalahkan “kanan-kiri” untuk dijadikan “kambing hitam”.

Stressing, bila suku bangsa Nusantara yang menamakan diri INDONESIA ini tak ingin punah atau terjajah oleh suku bangsa (keturunan) asing, Widjojo Soejono mewanti-wanti.

FB_IMG_1508161658874

 

John Stuart Mill : “Sebuah Bangsa adalah sekumpulan orang dengan simpati dan loyalitas bersama yang tidak terdapat antara mereka dengan orang serta kesepakatan untuk mendirikan Negara/Pemerintahan bagi upaya perwujudan cita2nya.” Para filosof Yunani sekitar 5 Abad SM menasihatkan : “Bertanya akan menjadikan orang lebih baik.” Mari kita bertanya seberapa jauh kondisi kebangsaan kita sudah memenuhi kriteria itu dan apa yang harus kita lakukan.

Jean Jacques Rousseau : “Apa yg kau perlukan bagi sebuah Negara pertama-tama adalah Warga Negara yg baik.Tanpa mereka yg kau punya hanyalah budak-budak, dari mulai Penyelenggara Negara sampai Rakyat biasa. Tapi membuat Warga Negara yang baik bukanlah pekerjaan satu hari. Untuk itu kau harus mendidiknya dan pendidikan itu harus dimulai dari masa kanak2.”

Beliau tambahkan : “Sains dan teknologi mutlak perlu dalam pendidikan ; tapi meninggalkan sejarah, kebangsaan, etika dan karakter hanya akan menghasilkan individualis bajingan calon tangkepan KPK.”

Lagi, Jean Jacques Rousseau : “Tanpa ekonomi dan kesejahteraan yang baik, Republik itu hanya nama.” Kita pada prinsipnya bukan Ekspansionis. Tapi membiarkan bahkan mem-fasilitasi pencaplokan bumi dan kekayaan alam oleh Asing, bukan saja kebodohan, tetapi suatu perbuatan a-Nasional.

Semoga manfaat bagi kita semua.

Dari wawancara dan mengutip tulisan beliau

Oleh : Sila Basuki
@silabasoeki dan Lembaga PUKAT.
(bersama Mufti Mubarok dan Rayan).

Share.

10 Komentar

  1. Setuju dg pak jendral purn.. Saya pernah mengalami berada di lingkungan PNS,, jd sy tahu yg beliau katakan benar.. Pejabat yg di gazi rakyat, sejatinya adalah budak rakyat.. Maaf terpaksa sy berkata kasar bgtu karna sdh terlampau muak dg kesalah kaprahan selam ini.. Selayaknya pembantu, maka pejabat tsbt harus berlaku sopan pd rakyat, takut dan segan pd rakyat,, bkn merasa diri bos nya rakyat.. Sadarlah dg statusmu yg kacung rakyat maka jangan kamu bersombong diri seolak kamu adalah bos rakyat.
    Dan jika kamu tdk mau disebut KACUNG RAKYAT,, maka berhenti dr pekerjaan mu dan buat perusahaan sendiri, agar kamu disebut Boss…

    • Saya sependapat dengan anda bung YN, buat apa negara keluarkan anggaran sangat besar kalau hanya untuk bayar orang yang pasif yang hanya nggandul saja. Orang malas yang memaksa untuk dibayar mahal. Kinerja ngga becus, progres ngga jelas, tak ada target yang harus di usahakan terkejar.
      semboyan yang penting masuk kerja absen dan patuh pada atasan, manut-manut wae kalo di perintah, ntar kan tiap periode tertentu pasti naik golongan dan tunjangan, kalo perlu untuk penyesuaian golongan, sekolah lagi biar dapat ijazah, kan ijazah itu surat penting untuk ajukan kompetensi. Orang -orang macam itu kalo suruh pegang perusahaan pasti dijamin BANGKRUT KRUT KRUT….Dan kalo perusahaan itu milik dia sendiri, maka sudah bisa dipastikan dia akan menjadi gelandangan, tanpa kompetensi apapun, kecuali berlembar-lembar sertifikat yang dia sendiri tidak tahu artinya. Tapi karena “perusahaan” itu bernama INDONESIA maka mereka boleh tidur nyenyak sambil nonton sinetron dan bermanja-manja diri dengan barang2 yang dia beli, dan lalu membanggakannya seolah dia itu orang yang berprestasi. Menjadi sombong dan tak sadar dirinya bodoh , malas, tidak punya skill apapun yg bisa dibanggakan di depan orang2 yang bekerja secara profesional. Orang bodoh sekalipun dan dungu, juga tidak berguna sekalipun, sangat bisa membeli barang2 mewah, asal dia punya uang. Lalu dengan barang2 mewahnya itu dia merasa lebih dari orang lain, sombong, dan semena-mena, adigang-adigung-adiguna. Ya Allah, sungguh keterlaluan mereka para penghianat dan penjilat negeri.
      Trenyuh juga sebenarnya bila kita melihat sisi yg lain, mereka yang mempertaruhkan Harta termahalnya (NYAWA) di perbatasan2 laut maupun daratan, untuk tegaknya suatu bangsa yg harus tetap eksis. Dengan keadaan dan kondisi seadanya, tapi tidak menurunkan semangat mereka. Salut saya. Mereka itu para profesional.
      Ya…mereka para profesional….
      salam….

    • bung @YN,,berarti TNI jg JONGOS, CENTHENG or BODY GUARD dong..yg bisa di suruh-suruh…dan PNS jg bayar pajak buat bayar diri sendiri juga..walaupun ada sisi benarnya, tp PNS-TNI jg kaya robot..tergantung yg setting programnya, kalau bagus, ya hasilnya bagus, kalau jelek juga jelek, ASN ada yg malas-malasan, ada juga yg banting tulang sesuai tupoksinya, lembur pun gak ada kompensasi jam lembur, yang penting kerjaan selesai “pokoknya gimana caranya..”, yang lebih jahat itu ya masyarakat yg selalu mau dibodohi untuk memilih direktur/pimpinan NEGERI ini, yg pada akhirnya MANIS di DEPANnya, MUNAFIQ selanjutnya…POLITIK itu MANUSIA, jika dibawa ke hal baik ya hasilnya baik bagai malaikat, tapi jika di bawa arah JAHAT, melebihi SETAN…

  2. kalo soal budaya kita kalah sama korea dg hallyu wave & jepang dg AKB48 & anime, program menteri bekraf masih setengah setengah, lhat sja cewek2 berjejer menyambut boyband korea bak pahlawan nasional & Wota yg ngantri panjang demi AKB48/JKT48 semuax demi apa, demi high five & DUIIT, kalo chaina mungkin fokus menyebarkan budaya patung dewa mereka, kalo amerika jg di tanya sbentar lg Dewa Thor muncul